My Blog...

Berpacu menjadi yang terbaik

artikel penerbitan dan distribusi buku

12 November 2011 - dalam Kuliah Oleh dwiky-a-p-fisip09

http://pusgrafin.go.id/main/index.php?option=com_content&task=view&id=33&Itemid=48

HTI, INDUSTRI KERTAS DAN INDUSTRI GRAFIK

 

Mentri kehutanan MS Kaban menyatakan akan membatasi penggunaan kayu hutan alam untuk industri kertas sampai tahun 2009. Pernyataan ini disampaikan karena kekawatiran akan semakin menipisnya kondisi kayu hutan alam di indonesia.

Menurutnya,alternatif yang terbaiknya yakni pihak industri kertas agar menanamkan hutan tanaman industri sebagai pengganti hutan tanaman alam untuk dapat memenuhi kebutuhan industrinya. Hutan tanaman alam tidak dapat secara terus menerus di ambil karena dapat menghabiskan hutan alam. Dengan menanam hutan tanaman industri (HTI) diharapkan industri kertas dapat memenuhi kebutuhan sendiri.

 

Hingga saat ini industri juga tidak memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin bertambah karena keterbatasan bahan baku. Menurut MS Kaban, keterbatasan industri kertas dalam memenuhi kebutukan konsumsi konsumen, karena industri kertas kebanyakan mengandalkan kayu hutan alam, padahal jika setiap industri kertas memiliki hutan tanaman industri, Persoalan tersebut dapat teratasi.

 

Adanya peningkatan konsumsi kertas akan memberikan dampak pada peningkatan terhadap bahan baku kayu. Setiap tahun volume kebutuhan terhadap kertas terus mengalami peningkatan.

 

Pada tahun 2003 konsumsi kertas mencapai 5,31 juta ton, untuk tahun 2004 kebutuhan konsumsi kertas mencapain 5,40 juta ton. Sedangkan pada tahun 2005 konsumsi kertas mencapai 5,61 juta ton dan prediksi pada tahun 2009 konsumsi kertas dapat mencapai 6,45 juta ton.

 

Indonesia saat ini menduduki peringkat ke sembilan untuk kategori industri pulp dan mengisi 2,4  pangsa pasar dunia. Sebagai industri kertas indonesia menduduki peringkat ke-12 di dunia dengan mengisi pangsa pasar sebesar 2,2 persen.

 

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pulp dan kertas pada tahun-tahun yang akan datang. Pemerintah tengah menggalakkan upaya penanaman hutan tanaman industri (HTI) sehingga kebutuhan terhadap kayu untuk industri kertas dapat terserap melalui HTI.

 

Upaya untuk mengantisipasi menipisnya kayu hutan alam, pemerintah tengah mengeluarkan penanaman HTI seluas 5 juta hektar hingga tahun 2009.



Peningkatan HTI

Humas PT Riau Andalan Pulp dan Papers Fachrunas mengatakan, sehingga industri kertas nasional telah melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap kebijakan pemerintah. Dengan menyiapkan lahan-lahan HTI sehingga pada tahun 2009 nanti bahan baku tidak lagi berasal dari kayu. Hutan alam melainkan berasal dari hutan tanaman industri yang telah di upayakan sebelumnya.

 

Peningkatan hutan tanaman industri menjadi keharusan selain alasan kelestarian lingkungan, diharapkan indonesia dapat mengisi kekosongan pangsa pasar kertas yang ditinggalkan oleh beberapa negara Eropa dan Asia karena terkena kenaikan harga minyak.

 

Beberapa negara mengalami kerugian pasokan kertas sehingga Indonesia di harapkan dapat mengisi kekosongan tersebut.

 

Mentri kehutanan menekankan pemerintah akan trus memberikan dukungan kepada industri kertas untuk dapat meningkatkan produksi kertas  sehingga dapat menembus pasar Eropa dan Asia. Beberapa insentif sudah di siapkan pemerintah, terutama untuk pemenuhan bahan baku yang berasal dari hutan tanaman industri (HTI).

 

“Masalah bahan baku kayu sebenarnya bukan hanya masalah industri kertas saja namun juga seluruh industri yang berbasis kayu. Termasuk didalamnya industri proses yang bahan dasarnya menggunakan kayu. HTI merupakan salah satu sumber bahan baku yang terus diupayakan dikembangkan oleh semua industri kehutanan,”kata Kaban.



Industri grafik dan penerbitan

Merupsksn industri ysng paling merasakan dampaknya bila terjadi kemerosotan produksi pada industri kertas. Karena sebagian besar bahan baku produksi cetak yang digunakan dalam industri grafika dan penerbitan menggunakan bahan baku kertas. Kenyataan ini menggambarkan hubungan yang erat dan saling membutuhkan antara industri kertas dengan industri grafika dan penerbitan. Bila ibaratkan,industrikertas dengan industri grafika dan penerbitan tidak berbeda jauh seperti manusia dengan air, ungkap kepada kepala bidang kajian grafik dan penerbitan pusgrafin, Ir.MT Djamara MM.

 

Kegiatan penanaman hutan tanaman industri (HTI), sebaliknya sendiri mungkin sudah dilakukan sehingga pada gilirangnya tidak ada lagi kelangkaan bahan baku yang terjadi seperti sekaranh ini. Dimana kalangan industri merasa kekurangan bahan baku karena pemerintah sudah membatasi penggunaan kayu hutan alam yang memang semakin menipis, ujar Djamara industri grafika dan penerbitan akan lebih banyak memerlukan kertas pada tahun-tahun mendatang. Apabila industri kertas banyak mengharapkan dati kayu hutan alam maka ada kemungkinan terjadi kerisis dalam pengadaan kertas di Indonesia karena lahan hutan alam yang semakin sedikit. Penanaman hutan tanaman industri akan menjadi solusi terhadap berkurangnya  kayu hutan alam dalam melakukan peningkatan terhadap bahan baku industri pulp dan kertas. Kelangkaan kertas akan memberikan dampak yang cukup berat pada industri grafika dan penerbitan. Oleh karena itu Pusat Grafika Indonesia menyetujui setiap langkah pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan peran industri pulp dan kertas di indonesia dengan melakukan peningkatan jumlah hutan tanaman industri (HTI). (Sumber:kompas dan dari berbagai sumber/nda).

 

 

http://gayahidup.liputan6.com/berita/201001/257508/Pembajakan.Digital.Rambah.Industri.Buku.Elektronik

Pembajakan Digital Rambah Industri Buku Elektronik  

Bonifacius Jaka

 

Artikel Terkait

05/01/2010 16:45 | Pembajakan

Liputan6.com, Jakarta: Pembajakan terhadap hasil karya orang lain semakin meresahkan. Setelah pembajakan banyak terjadi pada karya musik dan film, kini merembet ke buku digital. Bahkan, lebih dari satu dekade terakhir, pembajakan musik dengan cara digital telah menjadi ancaman bagi perusahaan-perusahaan rekaman besar. Selama bertahun-tahun pula, perusahaan rekaman mencoba berbagai cara demi memberantas pembajakan dengan menutup situs-situs web untuk mengenkripsi lagu. Sebagai contoh penjual musik online atau daring terbesar Apple iTunes.

Kini pembajakan sudah memasuki tahap baru, yakni membajak buku. Seperti novel karya Dan Brown bertajuk The Lost Symbol yang tengah meledak di pasaran pada September silam. Tidak kurang dari 24 jam setelah peluncurannya, data salinan dalam bentuk bajakan digital novel laris tersebut ditemukan di situs unduhan (dowload) gratis seperti Rapidshare dan BitTorrent. Dan hanya butuh beberapa hari saja, novel dalam bentuk digital itu sudah diunduh gratis sebanyak 100 ribu kali.

Pembajakan buku lewat situs internet ini sangat meresahkan penerbit dan penulis. Bagi penerbit, pembajakan tersebut menimbulkan dampak yang besar yakni merosotnya industri tersebut lantaran kebanyakan orang akhirnya malah beralih ke media internet dan membaca buku di situs internet (e-book). Hal ini bisa jadi terjadi lantaran lebih murah dan praktis dibanding harus membaca buku tebal secara tradisional.

Tak hanya meresahkan penerbit, para penulis pun mengaku khawatir. Seorang novelis sekaligus penyair Sherman Alexie pada suatu acara talkshow Stephen Colbert`s Show mengaku khawatir akan kejadian ini. "Aku benar-benar khawatir aku seorang Stephen King atau James Patterson di mana buku-buku mereka sangat laris dan menjadi buku digital, maka orang dengan sangat mudah membajaknya," kata Alexie seperti dikutip situs CNN.com.

Pembajakan buku elektronik tidak hanya menyasar pada buku-buku laris, tapi juga buku-buku lainnya. Seorang direktur di Asosiasi Penerbitan Amerika (AAP) Ed McCoyd mengatakan buku pelajaran tak luput dari pencurian secara digital. "Tak hanya buku-buku pelajaran beberapa buku dengan isi untuk profesional seperti buku medis, dan panduan teknis, serta fiksi umum dan non-fiksi juga tak luput dari pembajakan," kata McCoyd seperti dikutip CNN.com.

Seperti musik, berbagai cara coba digalakkan penerbit dan penulis demi memerangi pembajakan. Di antaranya dengan menunda rilis buku digital untuk beberapa pekan setelah salinan fisik dijual. Kemudian penulis novel Harry Potter, J.K. Rowling sejauh ini menolak membuat buku Harry Potter secara digital. Ia ketakutan akan dibajak dan lebih memilih melihat buku-bukunya dibaca dengan cara dicetak.

Namun, seperti biasa timbul pro dan kontra. Ana Maria Allessi, penerbit Harper Media di HarperCollins mengatakan lebih baik membuat teknologi yang tepat ketimbang meningkatkan kewaspadaan hukum. E-book adalah teknologi yang menawarkan banyak hal positif baik bagi penulis dan konsumen bahwa setiap pendapatan yang hilang untuk pembajakan mungkin hanya orang jahat yang memerlukan, katanya.

"Konsumen yang berinvestasi di salah satu e-book khusus pembaca cenderung untuk memuat itu dan membaca lebih banyak," kata Allessi. "Dan apa yang salah dengan itu?"(BJK/ANS)

 

 

http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&year=2007&id=2&fid=15

Edisi 15 November 2007

Google Book Search:
Ancaman bagi Industri Buku Konvensional?

 

Tentu saja, Google tidak menghadirkan layanan Google Book Search ini tanpa maksud apa pun. Dengan misi “menata informasi dunia”, mereka telah melakukan demokratisasi atas hak mendapatkan informasi. Tak pelak, gebrakan Google ini disambut kalangan industri buku dengan agak hati-hati.

 

Namun, semestinya penerbit yang curiga mengambil pelajaran dari industri musik dan – sedikit banyak juga – industri film. Baru 5 tahun lalu pengunduhan digital mengancam kelestarian industri musik. Kini, layanan itu justru menjadi segmen yang memiliki pertumbuhan tercepat dalam industri musik. Pada pertengahan 2004, mereka mewakili 1,5% penjualan industri musik; setahun kemudian meningkat hingga 4-5 persen. Kini, porsi mereka mendekati 10 persen.

 

Internet telah melahirkan bakat-bakat kreatif yang baru, model-model perdagangan yang baru. Beberapa berjalan baik, sebagian mungkin tidak: Studio film Sony baru saja membeli Grouper.com, sebuah situs tempat orang dapat memuat dan berbagi video; Universal Music mendukung Spiralfrog, yang memungkinkan orang mengunduh musik secara gratis.

 

Industri buku beruntung karena serangan digital terhadap mereka akan berjalan cukup lambat. Karya lengkap Trollope tentu tak akan lebih nyaman bila dibaca dari lembaran-lembaran A4. Buku benar-benar telah menjadi semacam harta karun, bahkan saat ia tak dibaca.

 

Bagaimanapun layanan Google Book Search akan menjadi berkah bagi para peneliti dan mahasiswa. Ia akan memungkinkan orang menemukan bagian-bagian dari berbagai buku dan, pada akhirnya, meningkatkan minat orang untuk membaca langsung bukunya.

 

Untuk industri penerbitan, ini tentu akan meningkatkan permintaan atas buku mereka. Dan, dalam prosesnya, akan memperkuat satu di antara sifat teknologi "lean forward". Internet sungguh tidak memperbodoh, namun justru mengangkat (kehidupan) kita.

Sumber foto: Gettyimages.com

 

http://bataviase.co.id/detailberita-10456967.html

 

Penjualan E-Book Kalahkan Buku

30 Dec 2009

Oleh Yeyen Rostiyanl

Dunia industri buku tampaknya harus bersiap-siap menghadapi revolusi membaca. Jika sebelumnya buku fisik atau p-book {paper based book) menjadi raja, tren itu berubah menjadi e-book. Tren ini terlihat dari pengumuman yang dibuat laman Amazon pada pada 26 Desember lalu.Amazon mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya volume penjualan e-ftook-nya melampaui buku fisik. Sedangkan perangkat lunak untuk membaca e-book bernama Kindle, menjadi hadiah Natal yang laris manis di Amerika Serikat (AS).

Saking banyaknya pesanan, Amazon bahkan mencatat rekor volume perjualan satu hari yang terbanyak dalam sejarah sejak Amazon berdiri. Pada Natal, lewat Kindle, pembeli di Amazon membeli lebih banyak e-book dibanding buku fisik."Kami sangat berterima kasih kepada para pelanggan karena mejadikan Kindle sebagai barang yang banyak menjadi hadiah dalam sejarah kami," kata Jeff Bezos, pendiri sekaligus CEO laman Amazon, dalam pernyataannya yang dikutip Peoples Daily.

Puncaknya terjadi pada 14 Desember, ketika para pembeli dari segala penjuru dunia memesan 9,5 juta barang. Ini berarti terjadi pemesanan 110 barang per detik.Selama musim liburan akhir tahun ini. Amazon mengirimkan pesanan ke 178 negara. Pesanan terakhir dilakukan seorang pelanggaran Amazon Prima di Seattle. Ia memesan Kindle pukul 13.43 waktu setempat pada 24 Desember dan menerimanya pada 16.57 pada hari yang sama.

Menurut penelitian yang dikumpulkan PC Magazine, industri penerbitan buku di Asia, Eropa, dan Afrika, kini masuk ke dalam kelompok "industru tradisional". Perkembangannya dipengaruhi secara kuat dari pertumbuhan Internet.
Meningkatnya e-book, toko buku online, dan sumber buku elektronik sedikit banyak mendongkrak vitalitas industri buku biasa. Namun ini mejadi pisau bermata dua ketika konflik antara penerbit e-book dan penerbit buku biasa terjadi.

Maritime Communications Partner (MCP), sebuah kelompok penerbit papan atas, baru-baru ini mengumumkan akan menunda peluncuran e-book. Hal ini dilakukan agar harga buku fisik dapat bertahan untuk sementara. Strategi penjualan ini membidik Amazon yang biasa menjual e-book secara pukul rata pada harga 9,99 dolar AS.Namun perlu diakui, bahwa memang ada sejumlah hambatan bagi ekspansi penjualan e-book. Pertama, tak semua orang mengenal e-book ini. Survei menunjukkan, 50 persen warga Spanyol belum pernah mendengar e-book.

Kedua, perangkat lunak untuk membaca e-book harganya relatif mahal. DI AS sendiri harganya bisa ratusan dolar AS. Namun, jika harganya diturunkan menjadi 100 dolar -dan ini mungkin saja terjadi- pembeliannya diyakini bakal melonjak tajam. Ketiga, pembaca masih terus berharap agar harga e-book bisa turun. Hal lainnya ada keterbatasan bacaan versi e-book.Jadi, apakah revolusi membaca memang menghadang kita? Jawabannya tergantung persepsi Anda. Namun, tak ada salahnya industri cetak mempersiapkan strategi menghadapi gempuran e-book. Rn

 

http://www.antaranews.com/view/?i=1246119783

 

E-book Berdampak Besar Bagi Industri Percetakan

Sabtu, 27 Juni 2009 23:23 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis | Dibaca 1699 kali


(www.ebookreadersreview.co.uk)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Dion Sihotang mengatakan, kehadiran e-book (buku elektronik) tidak akan dapat menyaingi keberadaan buku konvensional, namun keberadaan e-book berdampak besar bagi industri percetakan Indonesia.

"E-book tidak akan pernah bisa menggantikan buku konvensional selamanya, karena buku mempunyai karakteristik tersendiri sehingga buku tidak akan mati," kata Dion dalam acara loka karya konvensi pekan produk kreatif Indonesia, Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, keberadaan e-book sendiri merupakan kendala eksternal penerbitan sendiri karena adanya ancaman teknologi dari persaingan antara e-book dan buku konvensional walaupun di era teknologi maju seperti sekarang.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang membeli hak cipta penerbit buku pelajaran sekolah tertentu untuk dijadikan e-book gratis juga berpotensi menjatuhkan industri penerbitan buku Indonesia.

"Hal itu disebabkan karena pemerintah mengharuskan pelajar Indonesia mengunduh buku sekolah elektronik (BSE) dan memberikan efek pada banyaknya pemutusan hubungan kerja di bidang penerbitan," katanya.

Menurut dia, pembelian hak cipta justru mematikan industri kreatif penerbitan buku karena menuntut perusahaan penerbitan untuk tidak menerbitkan buku yang sama selama 15 tahun.

Buku-buku penerbit swasta sekalipun yang sudah ditulis dan terbitkan, tidak boleh dibeli sekolah-sekolah Indonesia kecuali buku yang termasuk daftar BSE.

Padahal selain BSE, masih banyak buku terbitan swasta yang kualitasnya lebih bagus, karena pihak penerbitnya menolak untuk menjual hak ciptanya kepada pemerintah.

"Buku yang diunduh ke internet kualitasnya relatif lebih rendah," katanya.

Menurutnya kebijakan pembelian hak cipta penerbitan yang kemudian diunduh ke internet oleh pemerintah ini merupakan kebijakan singkat pemerintah.

"Anehnya pemerintah juga melarang membeli buku diluar yang diakui pemerintah, dalam hal ini buku-buku yang lulus BSE," katanya.

Dari kebijakan e-book pemerintah yang sudah berjalan ini, sekitar 250 penerbit besar juga mengalami kerugian besar, ia mencontohkan dengan penurunan omzet sekita 70 persen yang dialami oleh penerbit Airlangga yang biasanya mampu meraih omzet sebesar satu triliyun dalam setahun.

"Penerbit Airlangga mengalami penurunan yang sangat tajam sebesar 70 persen, karena sekolah-sekolah dilarang membeli buku selain BSE," katanya.

Ia menuturkan, kalaupun BSE ini dicetak, harga yang ditawarkan harus memenuhi harga eceran tertentu (HET) buku pelajaran sekitar Rp.4 ribu hingga Rp.15 ribu, sehingga hanya memberikan sedikit keuntungan bagi pihak penerbitnya, belum lagi jika pihak sekolah dan guru meminta potongan harga sekitar 20 persen dari penjualan buku tersebut.

Sedangkan kendala internal yang dihadapi kalangan penerbit adalah kurangnya sumber daya manusia yang menguasai bisinis penerbitan dengan baik, walaupun sekarang sudah terlihat penyususnan tampak muka yang sudah relatif bagus.

Kendala itu juga didukung dengan kurangnya kompetensi SDM di bidang penerbitan baik itu penulis, editor, layouter, desain grafis, promosi, marketing dan penerbitan itu sendiri.

Kurangnya modal kerja juga merupakan kendala internal yang juga harus dihadapi pihak penerbit menghadapi krisis global dengan meningkatnya harga kertas di pasaran.

Ia menganjurkan pemerintah untuk meninjau ulang kebijakannya yang dinilai diambil secara singkat untuk bisa menyelamatkan industri penerbitan agar harga buku tidak mahal.

Krisis global yang melanda belakangan ini juga menyumbang kontribusi pada industri ini, dampak yang terjadi adalah penurunan daya beli masyarakat sehingga pemasukan industri penerbitan buku menjadi merosot.

Pihaknya mengharapkan perhatian pemerintah yang lebh besar pada industri penerbitan terlebih dari Departemen pendidikan nasional (Depdiknas) mengenai penerbitan buku-buku pelajaran.

Selain itu IKAPI juga mengharapkan pusat perbukuan agar lebih ditingkatkan statusnya menjadi Badan negara seperti Perpustakaan Nasional agar dapat lebih mandiri juga untuk memajukan dunia perbukuan.

Serta perlunya dukungan pemerintah menganai kerja sama dengan perpusnas dan pengembangan sumber daya manusia di bidang penerbitan untuk menghasilkan kualitas buku yang lebih baik dari segi konten dan lay out buku itu sendiri agar buku Indonesia bisa diminati masyarakatnya.(*)

COPYRIGHT © 2009

http://kertasjawa.blogspot.com/2009/02/sejarah-kertas.html

 

17 Februari 2009

Sejarah Kertas

 

Tidak ada yang menyangkal betapa pentingnya fungsi kertas dalam kehidupan. Sebagian besar media komunikasi dan penyampaian informasi dilakukan melalui kertas. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan akan kertas terus meningkat. Di Indonesia, kebutuhan kertas pada tahun 1997 mencapai 3,97 juta ton. Diproyeksikan, permintaan kertas setiap tahunnya meningkat sekitar 25 persen.

Sedangkan kapasitas produksi dunia dalam menghasilkan kertas mencapai 200 juta ton per tahun. Amerika Serikat menghasilkan sepertiga dari total produksi itu, sedangkan Jepang dan Kanada sekitar setengahnya. Produsen besar lainnya adalah Jerman, Swedia, Finlandia, Perancis, Italia, Inggris, dan Brasil.

Permintaan terhadap kertas yang begitu tinggi inilah yang sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap masalah pelestarian hutan kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas. Selama ini, pembuatan kertas lebih banyak menggunakan pulp yang berasal dari bahan baku kayu. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan kertas yang besar itu, ketersediaan bahan baku pulp harus diambilkan dari hutan-hutan kayu dalam jumlah yang besar pula.

Untuk mengantisipasi menipisnya ketersediaan bahan baku kayu, sejumlah hasil penelitian memperlihatkan adanya alternatif bahan baku bukan kayu yang dapat digunakan untuk pembuatan kertas. Diantaranya tandan kelapa sawit, beberapa jenis tanaman kelompok rumput-rumputan, serta sampah atau limbah pertanian. Sejumlah usaha skala kecil dan home industry bahkan melakukan terobosan dalam pembuatan kertas dengan menggunakan bahan baku dari kertas-kertas bekas maupun dari sampah kain atau tekstil.

Untuk menghasilkan secarik kertas seperti yang kita kenal sekarang, ternyata melalui proses yang sangat panjang. Sebelum kertas ditemukan, kita bisa membayangkan, bagaimana jerih payah dan sulitnya manusia jaman dulu dalam mengumpulkan dan mendokumentasikan informasi. Ada yang harus menggunakan batu yang ditatah, melalui kulit binatang yang disamak terlebih dahulu atau kulit pohon yang dikeringkan.

Begitu pentingnya fungsi kertas ini sehingga para sejarawan sering menggambarkannya sebagai penentu perkembangan peradaban. Apalagi setelah mesin cetak ditemukan, berbagai produk cetakan di atas kertas bisa dihasilkan dengan mudah. Sejak saat itu, ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Peradaban pun maju dengan begitu cepatnya. Kini, penggunaan kertas sudah begitu luasnya, sehingga sulit bagi kita untuk membayangkan dunia tanpa kertas.

Sejarah ditemukannya kertas, ternyata melalui proses yang panjang. Untuk membuat tulisan, orang Mesir harus membuat lembaran yang terbuat dari sejenis tanaman rumput yang tumbuh di air yang terkenal dengan sebutan papirus. Dari tanaman inilah diambil daunnya yang kemudian dipipihkan menjadi lembaran-lembaran. Lembaran ini lalu dianyam dan dipukul-pukul agar menjadi rata, tipis dan halus. Sebelum dipergunakan, lembaran ini harus dijemur atau ditiriskan agar kering. Selain di Mesir, lembaran papirus ini juga banyak dipergunakan dan digemari orang-orang Yunani dan Romawi. Ini terjadi sekitar tahun 3000 SM.

Sedangkan Cina dikenal sebagai penemu bahan kertas yang sesungguhnya. Sebelum ditemukan bahan kertas ini, orang Cina mempergunakan lembaran bambu untuk membuat buku. Dalam perkembangannya, mereka kemudian dapat membuat bahan kertas dari bambu ini. Caranya, bambu yang telah dibersihkan dan dipisahkan dari daunnya, direndam dalam air selama beberapa hari. Dengan mempergunakan tungku yang terbuat dari batu, bambu kemudian dimasak hingga lumat dan menjadi bubur. Lembaran-lembaran kertas pun kemudian dapat dibuat dari bubur bambu ini.

Michael Hart, penulis buku 100 Tokoh yang Merubah Dunia, menyebutkan bahwa setelah temuan ini, penggunaan kertas meluas di seluruh Cina pada abad 2 M. Namun lama sekali Cina merahasiakan cara pembuatan kertas ini. Baru pada tahun 610, orang Jepang mulai mengenal kertas. Diperkirakan, orang Jepang mengenal kertas bersamaan dengan penyebaran agama Budha oleh rahib-rahib Cina. Pada tahun 751 juga diketahui bahwa Baghdad dan Samarkand sudah mampu memproduksi kertas dan menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan.

Sedangkan orang-orang Eropa mulai belajar teknik membuat kertas mulai abad ke-12. Pada abad 15, cara membuat kertas dengan teknik penggilingan ditemukan. Alat ini harus digerakkan oleh sekitar 10 orang dari dua sisi. Pada tahun 1799, Louis Robert menemukan dan membuat mesin pembuat kertas. Alat ini mampu mencetak kertas secara kontinyu. Proses dasar yang diterapkan pada alat ini terus digunakan sampai sekarang.

Perkembangan semakin berarti terjadi pada tahun 1877 ketika seorang ahli kimia yang bernama Misserlich mampu menunjukkan semacam selulosa yang putih dan bagus untuk pembuatan kertas. Sejak saat itu, kertas dibuat dari selulosa kayu dan mulai diproduksi secara besar-besaran. (*)

http://duniaebook.wordpress.com/2009/01/17/membaca-ebook-senyaman-membaca-buku/

 

Membaca Ebook Senyaman Membaca Buku

Posted on Januari 17, 2009 by wahyudi

Oleh: Wahyudi

Setelah posting provokatif yang saya tulis sebelumnya, kini saya akan berikan bukti bahwa membaca ebook bisa senyaman membaca buku.

Di masa depan saya yakin ebook akan menggantikan peran buku. Kenapa saya begitu yakin? Sederhana saja, itu berkaitan dengan bahan baku, biaya produksi, efektifitas dan efisiensi.

1. Bahan Baku, bahan baku kertas adalah kayu. Kayu berasal dari hutan. Seperti kita ketahui hutan di dunia ini sudah berkurang sangat drastis. Hal itu menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang mengakibatkan beraneka macam bencana alam. Maka dibuatlah Protokol Kyoto untuk menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Itu artinya penebangan hutan harus dikurangi sebesar-besarnya. Maka bahan baku kertas akan semakin menipis tersedia di pasaran.

2. Biaya Produksi, Dengan ketersediaan bahan baku kertas yang terbatas tentu saja harganya menjadi semakin mahal. Pastinya biaya produksi akan semakin tinggi. Belum lagi biaya cetak buku yang semakin hari semakin meningkat, biaya distribusi, biaya display dll. Bandingkan dengan biaya produksi ebook yang nyaris NOL rupiah.

3. Efektifitas dan Efisiensi, dari faktor ini kita pasti setuju bahwa buku tidak praktis karena bentuk fisiknya yang memerlukan tempat (cukup besar bila koleksi kita banyak), dan tidak praktis membawanya (apalagi bukunya cukup tebal atau membawa beberapa buku). Bandingkan dengan ebook yang cukup kita simpan dalam hard disk PC atau laptop. Dan kalau mau dibawa-bawa cukup disimpan dalam flash disk yang hanya sebesar ibu jari. Sangat praktis bukan.

Yang menjadi masalah bagi sebagian orang tentang ebook adalah mengenai kenyamanan. Biasanya kita tidak tahan terhadap radiasi monitor yang membuat mata kita cepat lelah saat membaca. Dan bagi sebagian orang sensasi saat membalikan halaman demi halaman buku tak tergantikan oleh ebook.

Tapi jangan khawatir…kini teknologi sudah sedemikian maju. Telah ditemukan teknologi Eink yang akan memanjakan kita membaca ebook senyaman membaca buku.

Apa itu teknologi Eink? Teknologi tinta elektronik yang secara visual sama persis dengan tulisan cetak pada buku konvensional atau koran dan majalah. Teknologi ini berupa display atau monitor yang bisa menampilkan ebook dan kita bisa membaca seperti halnya kita membaca buku konvensional.

Kita bisa menggunakan teknologi Eink untuk berbagai macam ebook atau dokumen digital dalam berbagai format seperti, PDF, HTML, TXT, JPG, BMP,GIF dan lain sebagainya. Alat ini biasa disebut dengan Ebook Reader.

Ukuran ebook reader yang sebesar buku dengan ukuran 18cmX 12cmX1cm sangat efisien dibawa kemana-mana. Apalagi kemampuan menyimpan data mencapai 512Mb dan tersedia card reader bila ingin menambah kapasitasnyadengan memory card (SD Card). Desain yang cantik dan stylish membuat penampilannya sangat wahh.

Bagaimana dengan kenyamanan membaca? Tentu saja senyaman membaca buku karena tampilan layar layaknya permukaan kertas. Tulisan pada layar bisa dilihat dari berbagai sisi dan sudut tanpa ada flicker atau pantulan cahaya. Sehingga saat membaca menggunakan Ebook reader seperti halnya membaca buku, koran atau majalah.

Ebook reader juga sangat hemat baterry karena konsumsi battery akan terjadi saat pergantian halaman saja. Sedang saat membaca halaman yang sama alat ini tidak mengkonsumsi energi. Biasanya battery akan habis setelah 8000 halaman, sangat hemat bukan.

 

Beberapa gambar ebook reader

Ada beberapa merk ebook reader di dunia diantaranya, Hanlin Ebook V3, Sony Portable reader PRS-505 dan PRS-700, Irex Iliad dan Digital Reader, Amazon Kindle, STAReBook, Booken Cybook Gen3, dan Polymer Vision.

Pada saat ini ada satu kekurangan dari alat ini, yaitu harganya yang masih cukup mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia umumnya. Alat ini dibandrol paling murah dengan harga US$299. Tapi dengan berkembangnya teknologi alat ini akan semakin murah. Seperti halnya handphone saat ini.

 

 

http://duniaebook.wordpress.com/2010/03/07/5-advantages-ebooks-compared-with-books/

 

5 Advantages eBooks Compared with Books

Posted on Maret 7, 2010 by wahyudi

 

Pic taken from wired.com

Now more advanced information technology. Wherever we are, even though it was in the corner of the world, still can communicate with people in other parts of the world. Yes … internet that can connect people from one end to the other end of the world.

Also for media sharing information and media science, when a few years ago we were still using these media in physical form, eg paper, in the form of books, magazines and other newspapers. So now the media does not have the paper anymore. Or maybe in the future we will not use it anymore. But the medium changes in digital form, That E-book, or Electronic Books.

Why E-book?? There are several advantages of media information and knowledge in the form of an e-book.

1. Because the format in digital form, e-book form rather than hard copy softcopy. More concise so do not need a place to store large, as well as books, which require a shelf / cupboard and room to store them. E-book only requires storage media such as hard disks in PCs or laptops, floppy disks, CDs and now have Flash Disk that looks small and can be taken anywhere.

2. System e-book delivery is very fast, only takes a few minutes even in seconds. Compare when we send the book, can take days.

3. Media send an e-book is very practical. We can send an e-book via email and within seconds was accepted by the people we send an e-book. Or we can upload on the Internet and throughout the world can download the e-book.

4. The cost to print the e-book is very cheap. Even be free if you already have an existing computer program MS-Word and PDF Writer, and the cost of electricity from the computer are ignored. Compare if you print a book with 200 pages of thick books in 1000, printing costs could be around 10 million rupiahs … the value is not very expensive. When compared with the print e-book is almost free, regardless of the amount which we will print up to unlimited, no printing costs will add to the e-book.

5. E-book will not be-broken. During the data we do not have a virus, and this can be prevented by the use of computer and careful installation of anti-virus software, e-books will remain in good condition even though it was already tens of years. Compare this with the book, which are easily damaged, torn, missing, fade and mildew writing when age is an annual book.

But until now there is a lack of e-book, which is Leisure. We usually like to read in a comfortable condition, such as sleeping, relaxing on the couch, sitting relaxed in the park. As we do when reading a book. When reading e-books we have in front of your PC or laptop computer. Sometimes we do not look strong with the monitor for long. Tired from sitting too long in front of the PC.

But I’m sure one day there will be a medium for reading e-books are friendly, so it gives comfort when reading. And really…Now there are so many ebook readers, for instant Amazon Kindle, Sony PRS, Bebook, Hanlin etc.

http://duniaebook.wordpress.com/2009/01/14/3-alasan-e-book-akan-menggantikan-buku/

 

3 Alasan E-book akan Menggantikan Buku

Posted on Januari 14, 2009 by wahyudi

E-book dan media online) adalah sebuah media informasi seperti halnya buku, koran, majalah, tabloid dan media–media yang lain. Berdasarkan pemikiran saya, suatu saat nanti media-media yang berupa fisik seperti buku dan yang lainnya akan hilang digilas oleh perkembangan jaman dan teknologi.

Kenapa demikian?

Ada beberapa hal yang melandasi tergilasnya buku, dan E-book/media online akan menjadi media informasi dan ilmu pengetahuan utama, yaitu :

  1. Media informasi dan ilmu pengetahuan (buku, koran, majalah dll, red)  yang menggunakan bahan baku kertas semakin lama semakin mahal. Dari pengalaman selama ini tidak pernah namanya buku, dll makin kesini makin murah. Yang ada makin mahal, pasti. Kenapa semakin mahal karena biaya produksi dan bahan baku yang semakin mahal. Dilihat dari bahan baku. Bahan baku kertas adalah kayu yang digunakan untuk bubur kertas (pulp). Harga kayu semakin mahal karena hutan (sebagai penghasil kayu) yang makin menyusut luasnya. Belum lagi setiap negara memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap penebangan hutan. Bagaimana bila hutan tidak ada lagi atau setiap negara melarang menebang kayu dengan alasan global warming? Bakal semakin mahal tuh buku. Atau malah lebih parah lagi buku tidak bisa diproduksi lagi karena tidak ada bahan baku.
  2. Setiap orang dewasa ini dan di masa yang akan datang menginginkan sesuatu yang simple dan praktis. Kita bisa memerlukan lemari atau tempat yang luas untuk menyimpan koleksi buku-buku/media fisik. Selain itu membawa buku kemana-mana pastinya selain berat, ribet tentunya tidak praktis. Berbeda dengan e-book, ribuan e-book yang kita miliki paling hanya memerlukan media sebesar jari tangan saja, yaitu flash disk. Cukup dimasukkan ke saku dan tentunya sangat ringan, hanya beberapa gram saja. Selain flash disk, media penyimpan lain pastinya adalah PC atau laptop. Hemat tempat dan sangat praktis.
  3. Media-media offline kini berbondong-bondong meng-online-kan diri. Tanda-tanda e-boook/media online akan menjadi informasi utama bisa kita lihat, seluruh media besar di seluruh dunia kini telah mempunyai media online (ambil contoh untuk Indonesia, Kompas, Bisnis Indonesia dll). Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti perusahaan-perusahaan itu hanya akan menggunakan media online. Sebagaimana halnya dengan detik.com.

Jadi persiapkan diri untuk menghadapi dunia informasi secara online. Mari kita menuliskan ide dan pengetahuan dan dituangkan dalam bentuk e-book atau media online. Karena dengan demikian kita telah membantu menyelamatkan hutan dan bertindak secara nyata untuk mengurangi efek global warming.

 

 

http://duniaebook.wordpress.com/2009/01/14/5-keunggulan-e-book-dibandingkan-buku/

 

5 Keunggulan E-book Dibandingkan Buku

Posted on Januari 14, 2009 by wahyudi

Kini teknologi informasi semakin maju. Di manapun kita berada, meski itu di sudut dunia, masih bisa berkomunikasi dengan manusia di pelosok dunia yang lain. Ya…internetlah yang bisa menghubungkan manusia dari ujung ke ujung dunia yang lain.

 

Pun untuk media informasi dan media berbagi ilmu pengetahuan, bila beberapa tahun yang lalu kita masih menggunakan media tersebut dalam bentuk fisik, yakni kertas, dalam bentuk buku, majalah Koran dan lain sebagainya. Maka sekarang medianya tidak harus kertas lagi. Atau mungkin di masa depan kita tidak akan menggunakannya lagi. Tapi medianya berubah dalam bentuk digital, Yaitu E-book, atau Buku Elektronik

 

Kenapa E-book?? Ada beberapa keunggulan media informasi dan pengetahuan dalam bentuk e-book.

  1. Karena formatnya dalam bentuk digital, e-book berupa softcopy bukan hard copy. Sehingga lebih ringkas tidak memerlukan tempat untuk menyimpan yang besar, seperti halnya buku, yang memerlukan rak/lemari dan ruangan untuk menyimpannya. E-book hanya memerlukan media penyimpanan seperti, hard disk dalam PC atau laptop, disket, CD dan sekarang ada Flash Disk yang bentuknya mungil dan bisa dibawa kemana-mana.
  2. Sistem pengiriman e-book sangat cepat, hanya memerlukan waktu beberapa menit bahkan dalam hitungan detik. Bandingkan bila kita mengirim buku, bisa memerlukan waktu berhari-hari.
  3. Media kirim e-book sangat praktis. Kita bisa mengirimkan e-book via email dan dalam hitungan detik sudah diterima oleh orang yang kita kirimi e-book. Atau kita bisa meng-upload di internet dan seluruh orang didunia bisa mengunduh (men-download)  e-book tersebut.
  4. Biaya untuk mencetak e-book sangat murah. Bahkan bisa jadi gratis kalau Anda telah memiliki computer yang ada program MS-Word dan PDF Writernya, dan biaya listrik dari computer diabaikan. Bandingkan bila kita mencetak buku dengan tebal 200 halaman sebanyak 1000 buku, biaya cetaknya saja bisa sekitar 10 juta rupiah… nilai yang sangat mahal bukan. Bila dibandingkan dengan cetak e-book yang hampir gratis, berapapun jumlah yang akan kita cetak hingga tidak terbatas, tidak akan menambah biaya cetak e-book.
  5. E-book anti rusak. Selama data kita tidak terserang virus, dan hal ini bisa dicegah dengan penggunaan computer yang hati-hati dan pemasangan software anti virus, maka e-book kita akan tetap bagus kondisinya meski usianya sudah puluhan tahun. Bandingkan dengan buku, yang mudah rusak, sobek, hilang, tulisannya pudar dan berjamur bila usia buku sudah tahunan.

 

Tapi sampai saat ini ada satu kekurangan dari e-book, yaitu Kenyamanan. Kita biasanya ingin membaca dalam kondisi nyaman, seperti sambil tiduran, santai di sofa, sambil duduk santai di taman. Seperti yang kita lakukan saat membaca buku. Saat membaca e-book kita harus di depan computer PC atau Laptop. Terkadang kita tidak kuat dengan menatap monitor berlama-lama. Atau punggung pegel-pegel karena duduk lama-lama di depan PC.

 

Tapi saya yakin suatu saat akan ada media untuk membaca e-book yang friendly, sehingga memberi kenyamanan saat membaca.

Medianya apa itu?? Baca terus di “Dunia Eboo

 

 

http://duniaebook.wordpress.com/2009/02/15/10-alasan-utama-kenapa-harus-ebook/

 

10 Alasan Utama Kenapa harus eBook

Posted on Februari 15, 2009 by wahyudi

 

Kenap harus eBook? Pic. taken from honestknowledge.com

Memang eBook memiliki beberapa kekurangan. Terkadang sulit membaca ebook dikarenakan harus menggunakan alat bantu untuk membaca ebook. Meski kini sudah ada alat baca ebook yang sangat praktis, tetapi harganya masih cukup mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia.
Diluar hal tersebut, kadang kita merasa buku memiliki sensasi tersendiri saat kita membalik-balikan halamannya. Sejujurnya saya setuju dengan hal tersebut. Ada rasa bangga dan puas saat kita memiliki buku konvensional.
Tapi kita juga harus berpikir bahwa ebook memiliki hal-hal yang luar biasa dan memberikan manfaat jauh lebih besar dibandingkan buku. Di bawah ini dijelaskan 10 Alasan utama kenapa harus beralih ke ebook :

1. Memiliki eBook membuat kita menghemat tempat dan waktu.     Tempat dimana kita menyimpan koleksi buku kita. Sedang waktu, kita tak perlu menyimpan buku-buku karena khawatir harus beli yang baru bila koleksi buku kita hilang.

2. Jika kita suka menandai hal-hal yang penting dalam buku tetapi takut merusak atau membuat jelek buku karena coretan, maka alat baca ebook memungkinkan kita menandai hal-hal penting di dalam ebook tanpa takut membuatnya jelek karena coretan.

3. Jika penerbit menjual satu juta copy dengan 250 halaman per copynya untuk satu judul buku. Itu berarti diperlukan 12.000 pohon hanya untuk memproduksi satu judul buku saja (sumber: “How to Go Green: Books” by Cindy Katz and Jennifer Wilkov). Itu artinya kita punya andil dalam perusakan lingkungan, bila membaca buku.

4. Jika Anda merasa ukuran huruf di dalam ebook terlalu kecil, maka alat baca ebook memungkinkan kita untuk megubah ukuran huruf dengan mudah. Sehingga tidak ada kendala karena ukuran huruf.

5. Dengan alat baca ebook kita bisa berlangganan Koran atau majalah secara online. Jadi tidak perlu menunggu loper Koran mengantar ke rumah kita.

6. Kita tidak perlu repot-repot pergi ke took buku karena kita tinggal mendownload ebook secara online dari rumah. Hal ini menghemat waktu untuk belanja dan mencari-cari buku di rak-rak took buku.

7. Tidak akan pernah kehabisan stok. Karena ebook tersedia dalam bentuk digital, sehingga akan selalu tersedia sepanjang waktu.

8. Alat baca ebook tidak memerlukan lampu penerangan saat membaca ebook. Karena displaynya sudah mampu menerangi. Sehingga kita bisa menghemat energi listrik.

9. Mengenai ukuran dan capacity file. Kita harus jujur, ebook memerlukan file yang kecil sehingga dengan alat ebook yang kecil bisa menampung ribuan ebook. Bayangkan bagaimana mudahnya sekolah karena kita cukup membawa alat sebesar novel yang mampu menyimpan ribuan ebook.

10. Kita bisa menghemat uang. eBook tentu saja harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan buku. Karena tidak memerlukan sumber daya dan biaya produksi yang besar.

http://tokoebook.com/?p=63

 

3 Alasan Kenapa Orang Kontra eBook

 

 

pic taken from fs.fed.us

Setelah saya memposting artikel-artikel mengenai keunggulan ebook dibandingkan buku, banyak komentar baik yang Pro maupun yang Kontra. Saya menghormati semua pendapat tersebut sebagai suatu proses untuk menuju kondisi yang lebih baik untuk dunia ebook.

Saya akan bahas dari sisi yang Pro terlebih dahulu. Komentar yang Pro hampir semuanya berpendapat bahwa, ebook lebih praktis, efisien, rendah biaya produksinya dan yang paling penting ramah lingkungan.

Karena posisi saya yang ingin memasyarakatkan ebook, maka saya cenderung untuk membahas pendapat orang-orang yang kontra terhadap ebook.

Dari pendapat-pendapat yang Kontra diantaranya adalah :

1. Membaca ebook tidak nyaman, karena memerlukan peralatan elektronik seperti computer, Laptop, atau PDA. Mata cepat lelah bila membaca di depan monitor, atau layar PDA yang kecil membuat tidak leluasa saat membaca.

Pendapat Saya : Memang untuk saat ini saya masih sepakat, bahwa membaca ebook kurang nyaman (bukan tidak nyaman, lho..) bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Tetapi tidak, untuk masyarakat di negara-negara maju, khususnya Amerika dan Eropa. Karena saat ini sudah ada alat baca ebook (ebook reader) dari teknologi eInk. Teknologi eInk ini memungkinkan membaca ebook (dokumen digital) layaknya membaca buku. Dengan alat ini membaca ebook akan senyaman membaca buku.

Keunggulan alat ini dari buku adalah bentuknya yang hanya sebesar buku novel, tetapi kapasitas data yang bisa disimpan didalamnya mencapai 4GB, dengan alat ini kita bisa mententeng setara dengan ribuan buku dalam satu alat sebesar buku novel.

Dan keunggulan lain alat baca ebook, dari Kindle Amazon bisa langsung online meski tidak ada koneksi internet. Karena alat ini menggunakan teknologi whispernet yang memungkinkan terhubung secara langsung dengan Amazon. Sehingga penggunanya bisa membeli dan mendownload ebook yang dijual oleh Amazon secara langsung. Bila Kita berlangganan Koran online seperti New York Times atau Washington Post, maka setiap pagi Koran tersebut akan terkirim ke alat baca ebook, Kindle.

Ada beberapa pabrikan yang memproduksi alat baca ebook. Diantaranya adalah, Kindle Amazon, Sony, Bebook, Jinke, Illiad dll. Alat-alat ini dijual secara online, tetapi untuk ukuran orang Indonesia memang alat ini relatih masih mahal. Karena harganya mulai dari US$280. Tetapi seperti halnya Handphone diharapkan alat ini akan semakin murah, bila diproduksi secara massal.

2. Mengancam Keberadaan industri buku saat ini, Penerbit, Penulis, Editor dan semua yang terlibat di dalamnya. Malah ada yang berpendapat bahwa Mengkonversi industri buku ke ebook, seperti mengharamkan rokok, yang akan menutup pabrik-pabrik rokok dan membuat jutaan buruh rokok kehilangan pekerjaan. Saya pikir ini pendapat yang terlalu berlebihan.

Karena ebook bukan mengubah dari yang “Ada menjadi tiada”. Tetapi mengubah teknologinya menjadi lebih baik, praktis, efisien dan biayanya murah. Tetapi bendanya itu masih ada hanya berubah bentuk saja. Tidak seperti mengharamkan rokok yang memang mengubah dari yang “ada menjadi tiada”.

Jadi semua yang terlibat dalam industri buku tetap bisa eksis. Penerbit tetap bisa menerbitkan ebook, Penulis masih tetap menulis, Editor tetap masih mengedit naskah, dll. Dan bagi penerbit untungnya bisa lebih besar karena biaya produksinya lebih kecil, penulis pun harusnya royaltinya jadi lebih besar, dst. Pembeli bisa lebih mudah mendapatkan bahan bacaan karena harga lebih murah dan mendapatkanya lebih praktis.

Dan muaranya adalah kita bisa mengurangi kerusakan hutan dari sisi penggunaan kayu untuk bahan baku kertas.

Memang perlu perbaikan infrastrukturnya, seperti alat baca ebook yang murah, jaringan internet yang bisa mencapai ke pelosok daerah. Saya yakin itu bisa dilakukan. Pada tahun 1998, siapa menyangka industri seluler bisa seperti saat ini. Saat itu harga HP sangat mahal, jangkauannya hanya di kota-kota besar. Tapi 10 tahun kemudian, seperti yang kita lihat saat ini.

3. eBook sangat mudah dibajak. Pembajakan memang sangat akut di negeri ini. Dan terjadi di semua bidang, musik, software, film, obat, jamu, dan buku sekalipun. Tetapi jangan karena takut dibajak kemudian kita takut untuk berkarya dan berubah. Untuk meminimalkan pembajakan, saya telah posting 7 Langkah Melindungi eBook dari Pembajakan.

Bila karya kita dibajak itu artinya karya kita bagus. Dan saya yakin ada hal positif yang akan didapatkan dibalik itu. Seperti contoh kasus, Kangen Band yang sekarang menjadi band sukses di tanah air, berawal dari karyanya yang dibajak. Dan masih banyak contoh-contoh lain.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :