My Blog...

Berpacu menjadi yang terbaik

evolusi manusia

12 November 2011 - dalam Kuliah Oleh dwiky-a-p-fisip09

PERILAKU INFORMASI MANUSIA (Human Information Behavior): DEFINISI DAN KEMUNCULANNYA

 

1. Perilaku Informasi

Information Behaviour

Information Seeking Behavior

 

 

Information Search Behaviour

 

Definisi: (Wilson, 1981)

-    Perilaku Informasi (information behavior): merupakan keseluruhan perilaku manusia yang berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian dan penggunaan informasi baik secara aktif maupun pasif.

-    Perilaku penemuan informasi (information seeking behavior) merupakan upaya menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam upaya ini seseorang bisa saja berinteraksi dengan sistem informasi hastawi (surat kabar, perpustakaan) atau berbasis komputer.

-    Perilaku pencarian informasi (information searching behavior) merupakan perilaku di tingkat mikro, berupa perilaku mencari informasi seseorang yang ditunjukkan ketika berinteraksi dengan sistem informasi.

-    Perilaku penggunaan informasi (information user behavior) terdiri dari tindakan-tindakan fisik maupun mental yang dilakukan seseorang ketika seseorang menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang sudah dimiliki sebelumnya.

 

2.                     Munculnya Perilaku Informasi Manusia

Bagaimanakah perilaku informasi manusia muncul?

Jawabannya terletak pada hubungan antara perilaku informasi dan evolusi manusia.

 

Evolusi Manusia: Dua Pandangan.

Perilaku informasi adalah ciri unik manusia yang membedakan manusia dari mahluk lain karena ciri unik dari otak manusia. Ada banyak teori berkenaan dengan ini.

1.   Salah satu teorinya ialah terdapat perbedaan kualitatif antara otak manusia seperti saat ini dan otak manusia dalam bentuk pra-manusia. Spink dan Cole (2006) menyebut apa yang diistilahkan sebagai transformasi neurologi dengan lompatan besar pada otak manusia, yang bisa menghasilkan transformasi dramatis pada bentuk kognitif manusia serta memperkuat kerja memori. Peristiwa ini terjadi mulai dari 40.000 sampai 75.000 tahun lampau. Menurut Mithen (1996), transformasi dramatis ini membuat Homo sapien bertahan hidup sementara Neanderthal tidak. Manusia pemburu-pengumpul menjadi sangat efisien didalam mengeksploitasi lingkungannya, lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ekstrim, dan lebih fleksibel dalam perilaku sosial (Mithen, 1988). Teori Lompatan Besar adalah bentuk radikal dari teori ekuilibrium yang berpedoman bahwa transformasi evolusi terjadi dengan langkah tiba-tiba dan radikal.

 

2.   Pandangan berbeda tentang evolusi otak manusia menyebutkan bahwa perbedaan antara otak manusia saat ini dan otak manusia prasejarah serta nenek moyang primata dapat dijelaskan dengan ukuran otak itu sendiri yang semakin meningkat. Terdapat peningkatan relatif sebanyak tujuh kali lipat pada ukuran otak dibanding massa tubuh mulai dari jaman kera sampai manusia hari ini (Jerison, 1973). Keadaan ini sering disebut dengan “bentuk terkuat dari hipotesa ensefalization” atau hipotesa unitari. Menurut hipotesa ini, hanya terdapat satu adaptasi evolusi pada evolusi manusia, yaitu ukuran otak, dengan ukurannya semakin lama semakin meningkat.

 

 

Penyebab evolusi otak manusia: Model Ecological Dominance and Social Competition

Model EDSC (Ecological Dominance and Social Competition) dari Alexander menyediakan ulasan paling komprehensif mengenai sifat manusia dalam perkembangan teori evolusi manusia, sosialitas dan kemampuan sosio-kognitif Model Alexander menyediakan dasar untuk menjelaskan evolusi kemampuan kognitif manusia karena ini merupakan pusat dari dominansi ekologikal manusia beserta kompetensinya dalam persaingan sosial. Manusia menjadi dominan secara ekologi melalui persaingan serta kerja sama antar dan diantara mereka yang semakin lama semakin meningkat, sehingga mengembangkan banyak kemampuan sosio-kognitif (Alexander, 1987).

 

Dalam model Ecological Dominance and Social Competition/Cooperation (EDSC), Alexander (1990) mengatakan bahwa: “Selama jutaan tahun itu keturunan hominid sangat berbeda jauh dari kera, khususnya yang ada hubungannya dengan ukuran dan fungsi otak, serta kompleksitas perilaku yang menyertainya, terutama perilaku sosial”. Meningkatnya ukuran otak bisa jadi disebabkan karena perilaku manusia tertentu, dengan semakin meningkatnya kebutuhan kerja sama dikalangan kelompok untuk bertahan hidup dalam lingkungan dimana persaingan tidak begitu banyak selain bersaing dengan lingkungan itu sendiri daripada dengan kelompok lain. Agar bersaing dan bekerja sama secara efektif, manusia mengembangkan jenis perilaku baru yang sebaliknya menimbulkan adaptasi pada otak dan fisiologi lain dalam diri manusia yang berhubungan dengan komunikasi seperti larynx (pangkal tenggorokan).

 

Alexander (1990) menanyakan jenis tantangan apakah yang dapat menyebabkan penyimpangan manusia semakin cepat dalam perkembangan tahap selanjutnya. Ia menyimpulkan bahwa penyimpangan mungkin disebabkan berkembangnya kemampuan sosio-kognitif manusia. Alexander (1990) mendefinisikan kemampuan sosio-kognitif sebagai ciri atau sifat yang unik dan tak biasa pada diri manusia. Kemampuan sosio-kognitif ini muncul dan berkembang seiring kemunculan manusia, sehingga menimbulkan keuntungan lebih lanjut pada manusia karena perubahan kognitif tersebut. Alexander (1990) membingkai kemampuan sosio-kognitif dan intelegensi manusia sebagai alat sosial sehingga “otak manusia muncul dalam konteks kerja sama dan persaingan sosial”. Perubahan fisik pada bentuk hominid adalah disebabkan karena otak sebagai alat sosial untuk meningkatkan kerja sama dalam-kelompok demi persaingan dengan kelompok luar.

 

Kemampuan Sosio-Kognitif

Dalam evolusi manusia dari primata ke Homo sapiens, otak manusia berubah karena Homo sapiens mengembangkan kemampuan sosio-kognitif dan bekerja sama sehingga sukses bersaing. Otak manusia terus meningkat ukuran dan fungsinya; faktanya, peningkatan ukuran dan fungsi ini sangatlah cepat. Berkembangnya otak manusia ini disebabkan karena kebutuhan manusia untuk bekerja sama dalam kelompok demi mempertahankan persaingan melawan kelompok Homo sapiens lainnya. Hipotesa “kerja sama untuk bersaing” berarti hanya dikalangan manusia dan diantara diri mereka sendirilah yang dapat mengembangkan tantangan cukup besar sehingga menimbulkan proses adaptasi manusia. Oleh sebab itu diri manusia sendirilah yang menjadi kekuatan alam.

 

Persoalan yang mengendalikan evolusi kemampuan kognitif manusia bukanlah suatu persoalan karena lingkungan fisik melainkan karena persoalan sosial. Humphrey (1976) menerangkan hipotesa evolusi otaknya sebagai alat sosial; ras manusia yang dipilih untuk individu yang sangat baik pada manipulasi sosial. Dunbar (1993) berpendapat bahwa bahasa berkembang, bahkan matematika pun, yang merupakan jenis kemampuan linguistik, telah dibuat dan digunakan untuk memajukan masalah sosial kelompok ketika bersaing dengan kelompok lainnya.

 

 

 

Pemrosesan Informasi

 

Perspektif proses informasi dalam psikologi kognitif

 

Kognisi menunjuk pada proses mental atau aktivitas pikiran yang meliputi bagaimana seseorang memperoleh informasi; bagaimana informasi itu kemudian direpresentasikan dan ditransformasikan sebagai pengetahuan; bagaimana pengetahuan itu disimpan di dalam ingatan kemudian dimunculkan kembali; bagaimana pengetahuan itu digunakan seseorang untuk mengarahkan sikap-sikap dan perilaku-perilakunya.

 

Proses kognisi pada manusia menyangkut bagaimana pikiran manusia memproses informasi sehingga menjadi pengetahuan yang disimpan di dalam ingatan, kemudian menggunakan pengetahuan itu di dalam tugas-tugas atau aktivitas-aktivitasnya. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui informasi yang diproses lebih lanjut. (Ilmu yang mempelajari khusus tentang hal ini adalah: Psikologi Kognitif atau sering disebut psikologi pemrosesan informasi/information processing psychology)

 

Dalam Psikologi Kognitif disebutkan diantaranya:

Proses Kognitif cenderung lebih aktif daripada pasif. Manusia selalu berusaha mencari informasi, memperoleh pengetahuan dan mengikuti perkembangan pengetahuan yang baru.

 

Berbeda dengan psikologi behaviorisme yang memandang manusia sebagai organisme yang pasif, menunggu stimulus datang dari lingkungan, kemudian baru memberikan respon. Kecenderungan aktif ini paling tidak dapat dilihat dari rasa ingin tahu yang tinggi yang dimiliki orang terhadap hal-hal yang baru atau dengan cara mengajukan pertanyaan kepada orang lain tentang informasi yang belum dimengerti.

 

Dukungan tentang asumsi ini, sejak awal diperoleh dari Jean Piaget tentang teori perkembangan kognitif - yang membagi beberapa tahap perkembangan kognitif manusis dari usia anak-anak hingga dewasa. Sedangkan dukungan yang paling penting dewasa ini adalah perkembangan pendekatan pemrosesan informasi (information processing approach) yang berasal dari ilmu komunikasi dan komputer; ilmu informasi. Dua komponen penting dalam pemrosesan informasi: a) proses mental atau berpikir yang diinterpretasikan sebagai alur penerimaan informasi seperti yang berlaku pada sebuah komputer, yang harus melalui beberapa tahapan: input processing, storage and output; b) proses mental akan dapat dimengerti dengan baik jika dilakukan dengan cara membandingkan antara pemrosesan informasi yang dilakukan oleh manusia dengan bagaimana sebuah komputer bekerja.

 

Pandangan proses informasi dalam psikologi kognitif menyediakan kerangka kerja yang berguna tentang bagaimana manusia mampu secara kognitif mentransformasi data sense dari lingkungan fisik dan sosialnya kedalam sistem informasi yang memperkuat pemrosesan adaptif terjadi. Teori pemrosesan informasi menerangkan aliran informasi dari input lingkungan yang masuk kedalam sistem pemrosesan informasi manusia ke output memori. Bentuk dari output memori ini bermacam-macam (memori jangka panjang, memori jangka pendek)      

 

Perspektif evolusi perilaku informasi

Perspektif evolusi ini memahami perilaku informasi adalah mengeksplorasi perkembangan perilaku informasi yang dimanifestasikan oleh manusia serta mengeksplorasi bagaimana evolusi membentuk perilaku informasi. Perspektif ini mengeksplorasi bagaimana perubahan evolusi pada perilaku informasi dapat mencerminkan perkembangan kognitif dan kemasyarakatan ketika manusia berusaha keras memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari sekaligus mempertahankan hidupnya.

 

Perilaku Informasi Sebagai Penguatan EDSC

Dalam Model EDSC Alexander dikatakan bahwa  kerja sama sosial manusia dalam kelompok untuk menandingi persaingan dari kelompok lain sebagai pemicu yang mengawali adaptasi fisik penyebab dominansi ekologi manusia. Perilaku informasi dalam hal ini dipahami sebagai suatu bentuk adaptasi yang didasarkan pada pengembangan skema kognitif, sistem/simbol bahasa manusia yang muncul dalam diri individu berdasarkan atas perkembangan pembelajaran, dan budaya manusia. Perilaku informasi muncul sebagai daya tahan hidup imperatif yang mengendalikan kebutuhan untuk mengumpulkan, mengharmoniskan serta menggunakan informasi tentang keluarga, dan selama masa perang tentang pesaing, kawan, pemenuhan strategi serta mitra reproduksi seksual. Perilaku informasi melalui pemindaian lingkungan dan komunikasi manusia tercermin dalam seni gua (Mithen, 1996) serta bentuk-bentuk lain dari penyimpanan informasi. Manusia mengembangkan kemampuan sosio-kognitif unik untuk secara kognitif menghasilkan informasi dimana mereka kemudian menyimpan, mengatur, mendapatkan kembali serta menggunakannya.

 

Kerangka kerja Evolusi untuk EDSC: Episode, Mimetik dan Teoritik

Donald (1991) membagi evolusi otak kedalam tiga transisi, dalam kerangka adaptasi peningkatan ukuran otak. Transisi ini menggambarkan evolusi perkembangan kognitif manusia yaitu episode menjadi budaya mimetik, budaya mimetik menjadi budaya mitik, dan dari mitik menjadi budaya teoritik, yang didasarkan pada sistem penyimpanan memori (bahasa dan munculnya tulisan).

 

Donald (1991) membuat klasifikasi strategi representasional yang didasarkan pada tahapan evolusi otak manusia menurut representasi kognisi manusia; ini merupakan bentuk dari model mental yang membuat manusia menyimpan informasi, mengatur proses kognitifnya, serta mengarahkan perilakunya, termasuk perilaku informasi. Manusia dan banyak mamalia lainnya membuat representasi episodik memori; hal ini meliputi representasi biasa, konkrit, segera, berjangka pendek, representasi yang terkait dengan situasi yang terjadi dalam sistem perseptual mamalia. Kera, misalnya, dapat mengingat tanda-tanda peristiwa dan sesuatu bila ia secara langsung diajari tanda-tanda itu, namun strategi representasi mereka adalah didasarkan pada episode sebelumnya dari peristiwa atau sesuatu yang sama. Namun demikian, episodik otak dapat saling bertumpangan atau memisahkan obyek kedalam situasi yang dirasakan, sehingga memberi padanya kekuatan dan pemanfaatan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari manusia. Pada manusia: jenis memori yang penting dalam hubungan sosial, adalah episodik memori.

 

Episode menuju Budaya Mimetik: Transisi pertama dalam evolusi otak manusia adalah dari kapabilitas episodik menuju representasi mimetik, suatu transisi yang membedakan manusia dari mamalia lain. Pembuatan model mimetik terletak pada “invensi dan praktek olahraga, permainan, tarian, ritual, dan seni”. Budaya mimetik yang diciptakan berjalan dalam proses tanpa pemikiran verbal sehingga bisa dikatakan budaya mimetik yang dibangun ini sebagai budaya non-linguistik. Budaya Mimetik secara luar biasa sangat bermanfaat dalam peradaban dan ritual keagamaan dimana pemikiran bersama disepakati. (Donald, 1991). Ekspresi Mimetik tampak pada diri Homo erectus dalam permainan, pembuatan alat dan ritual serta gerakan tubuh standar yang dilakukan dalam aturan sosial. Kapasitas representasional Mimetik pada Homo erectus, menurut Donald (1991), mengatur tahapan penyimpanan memori semantik, simbol, dan otak teoritik dari Homo sapiens. Representasi mimetik terlihat dari perkembangan alat, misalnya, yang memerlukan beberapa bentuk representasi simbolik sebagai keahlian yang diturunkan kepada generasi berikutnya.

 

Budaya Mimetik menuju Budaya Mitik: Menurut Donald (1991) adanya peranan sosial, yaitu untuk meningkatkan ikatan dan kerja sama sosial – dari keahlian Mimetik telah diperkuat dengan penemuan mitik/mitos. Mitos masyarakat adalah sebuah model konseptual dari keberadaan diri manusia didalam lingkungan obyektif atau fisik. Mitos terbentuk selama beberapa generasi dan merupakan naratif untuk kelompok sosial manusia tertentu yang digunakan untuk bersaing melawan kelompok lain “Ketika menaklukan masyarakat pesaing, tindakan pertama dari penakluk adalah menjalankan mitos mereka kepada taklukannya” (Donald, 1991). Posisi kuat dalam masyarakat tersebut adalah mereka yang memegang dan mengendalikan parameter mitos kelompok, pendeta dan bangsawan yang telah ada. Keahlian Mimetik adalah “alat otak prototipikal, fundamental, integratif” (Donald, 1991), baik ditingkat individu dalam masyarakat, dan lebih penting lagi, untuk kelompok sosial itu sendiri, dengan menyatukan para anggotanya melawan kelompok lain yang mengadakan kontak dengannya. Semakin meningkatnya ukuran dan kompleksitas kelompok sosial yang lebih besar, yang bisa mengalahkan kelompok sosial lebih kecil saat bersaing, memerlukan lebih banyak hubungan sosial yang efisien; mereka perlu dibuatkan konsepnya dan dikendalikan. Oleh karena itu bahasa dikembangkan untuk memfasilitasi perkembangan dan penyebaran mitos. (Donald, 1991).

 

Budaya Teoritik: Bahasa adalah suatu adaptasi “yang memenuhi kebutuhan kognitif dan budaya tertentu,” yang dapat secara khusus disebut sebagai “formalisasi dan penyatuan pemikiran dan pengetahuan” kedalam sistem teoritik (Donald). Pemikiran teoritik adalah bentuk pemikiran yang lebih kuat daripada apa yang telah ada dalam budaya Mimetik. Budaya teoritik meliputi pemikiran analitik, penemuan gramatikal, keahlian memori-manajemen, algoritma dan pengembangan konsep terkait teori dalam pemikiran abstrak.

 

Model Informasi dalam EDSC dan Perilaku Informasi

Gambar 1 berawal dari model EDSC Alexander (1990) dan sentralitas manusia sebagai mahluk sosial dalam cerita evolusi kita, kami membuat model teori unitary Donald (1991) tentang evolusi otak manusia. Teori Donald (1991) memuat ulasan tentang evolusi kognisi manusia yang didasarkan pada struktur pengetahuan yang disimpan dalam LTS manusia. Struktur pengetahuan ini menyediakan mekanisme pemrosesan informasi dalam STS untuk operasi decoding dan encoding memori manusia yang terjadi ketika input stimulus lingkungan memasuki sistem kognitif.

 

Menurut tesis ini, evolusi otak manusia dikendalikan oleh persaingan dalam-kelompok yang menyebabkan kerja sama sosial antar-kelompok, yang mana dalam sejarah evolusi manusia telah menciptakan lebih banyak kemampuan manusia yang kompleks untuk menghasilkan model mental dari lingkungan fisik dan sosial manusia serta tempat manusia dalam lingkungan tersebut. Kekuatan pengendali dari evolusi ini adalah adanya upaya membentuk secara terintegrasi pengalaman manusia kedalam naratif koheren. Narasi ini ini memperkuat ikatan sosial dalam kelompok menjadi lebih efektif lagi dalam bersaing melawan kelompok lain demi persaingan sumber daya terbatas.

 

Dalam Gambar 1, terlihat model kemampuan sosio-kognitif manusia sebagai sebuah sistem input dan output. Input sendiri adalah data sense dari lingkungan fisik dan sosial, anomali dan pengetahuan yang berasal dari kelompok sosial dan individu. Output adalah kerja sama sosial yang lebih besar yang menyebabkan semakin meningkatnya efisiensi ketika bersaing dengan kelompok luar demi lingkungan sumber daya yang terbatas. Alat otak integratif berada ditengah-tengah  bertindak sebagai pendukung untuk mentransformasi data input, anomali dan pengetahuan kedalam output kerja sama sosial/persaingan. Sistem alat otak integratif ini memiliki kapabilitas pemikiran  dalam otak manusia yang terisi dengan berbagai macam informasi selama evolusi manusia, mulai dari budaya episodik awal dalam evolusi sampai budaya teoritik pada saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Kerangka Kerja Perilaku Informasi: Kemampuan sosio-kognitif

persaingan

Terpisah: episodik

Keseluruhan: otak semantik

PERILAKU INFORMASI

Input

Otak Integratif

Output

Anomali (negatif)

Pengetahuan (positif)

Data (informal, tak sistematis

Sistem Episodik

Sistem Mimetik: Ikatan sosial

Mitos: Sosial

Sistem Teoritik: simbolik kognitif

Kerjasama

 

 

Menurut Donald (1991), sistem ini mengendalikan perilaku informasi. Aspek kognitif dari kemampuan sosio-kognitif secara singkat terlihat pada bagian atas dari Gambar 1. Donald (1991) membuat hipotesa bahwa ketika primata, dan juga manusia, memiliki memori episodik (yakni, memori untuk peristiwa terpisah), maka kendali semantik untuk menyatukan peristiwa dari keberadaan manusia kedalam beberapa jenis narasi koheren adalah ciri dari kognisi. Dalam model Gambar 1, ada dua komponen utama:

1.   bahwa evolusi otak manusia adalah dikendalikan oleh pembuatan model lingkungan oleh manusia dengan menyatukan peristiwa dan hal-hal terpisah bersama-sama kedalam narasi yang semakin lama semakin kompleks; dan

2.   bahwa semua fase perkembangan otak masih tetap mempengaruhi perilaku informasi, fokus model, sehingga perlu diperhitungkan dalam model kita (Donald, 1991; Smith, 2006).

Perspektif evolusi tentang perilaku informasi ini serta apa yang membentuk informasinya, adalah pandangan baru yang sangat penting bagi ilmu informasi. Semua fase evolusi manusia dipaparkan dan dijalankan dalam otak manusia mengindikasikan bahwa otak episodik, mimetik, mitik/mitos, dan teoritik, semuanya menyumbang sebagai alat bagi kebutuhan manusia dalam mencapai output evolusi bagi kerja sama dan persaingan.

Kesimpulan utamanya adalah keempat jenis pikiran di atas memotivasi perilaku informasi.

 

 

Daftar Pustaka

Sanderson, Stephen K (2003) Makro Sosiologi. Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

 

Spink, Amanda (2010) Information Behavior. An Evolutionary Instinct, New York: Springer.

 

Spink, Amanda and Cole, Charles (2007) Information Behavior: A Socio-Cognitive Ability, tersedia pada http://www.epjournal.net/filestore/EP05257274.pdf

 

Suharnan (2005) Psikologi Kognitif, Surabaya: Srikandi.

 

 

 

 

 

EVOLUSI MANUSIA

 

Dalam skala kehidupan manusia, manusia termasuk ke dalam ordo taksonomi yang dikenal dengan primata. Anggota lain dari ordo ini adalah anggota keluarga Cebide (kera Dunia Baru) dan keluarga Cercopithecidae (kera Dunia Lama), primata yang agak jauh hubungannya dengan manusia. Yang juga anggota primata ini adalah anggota keluarga Hylobatide (kera besar: Chimpanse, gorilla dan orang utan). Dengan primata-primata ini, terutama kera besar, manusia mempunyai hubungan yang sangat dekat. Namun, manusia termasuk dalam keluarganya sendiri dalam ordo primata: Hominidae. Sedangkan manusia, termasuk makhluk manusia modern adalah Homo Sapiens.

 

PERKEMBANGAN PENTING DALAM EVOLUSI MANUSIA

 

Pertama, perkembangan paling krusial dalam evolusi manusia adalah transisi ke postur tubuh yang berdiri tegak. Perkembangan postur tegak ini sangat penting karena karakteristik ini membebaskan tangan yang sebelumnya dipakai untuk berjalan. Tangan, setelah bebas dapat digunakan untuk tujuan lain dan yang trepenting di antaranya adalah penggunaan peralatan. Beberapa primata lain selain manusia diketahui mampu membuat dan menggunakan alat yang sangat sederhana. tanpa adanya perkembangan dalam postur tubuh, sangat diragukan bahwa penggunaan alat dapat berkembang dengan begitu pesat dan diragukan pula bahwa hominid adalah pencipta kebudayaan.

 

Keuntungan yang terbesar dari adanya peralatan adalah peralatan memungkinkan eksploitasi lingkungan yang sangat menguntungkan. Munculnya penggunaan alat di kalangan umat manusia akhirnya memungkinkan mereka mengembangkan berbagai teknologi yang kompleks.

 

Kedua, perkembangan yang penting lainnya adalah peningkatan bertahap dalam ukuran besar dan kompleksitas otak. Peningkatan ini memberikan kemampuan belajar  yang luar biasa kepada manusia. Manusia mulai memiliki fleksibilitas yang luar biasa dalam hal kemampuan mereka beradaptasi dengan alam dengan berbagai cara yang lebih dari sekedar yang diwariskan secara genetik; dan ketika manusia mulai melakukannya, mereka mulai berhasil hidup di lingkungan yang lebih luas dan beragam.

 

Ketiga, keunikan evolusi manusia lainnya adalah berkembangnya pola komunikasi simbolik yang ditandai dengan digunakannya simbol-simbol, yaitu bahasa.

 

 

(diambil dari buku Makro Sosiologi. Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Stephen K. Sanderson, penerbit: Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003)



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :