My Blog...

Berpacu menjadi yang terbaik

karakteristik masyarakat informasi

12 November 2011 - dalam Kuliah Oleh dwiky-a-p-fisip09

BAB 2

Karakteristik Masyarakat Informasi

 

 

1. PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum

Hal-hal yang akan dibahas dalam bab ini adalah  karakteristik Masyarakat Informasi yang terdiri dari 5 (lima) sudut pandang yaitu teknologi, ekonomi, pekerjaan, spasial, dan budaya. Karakteristik yang dikemukakan oleh Frank Webster ini memberikan banyak acuan untuk mendefinisikan serta menggambarkan tentang Masyarakat Informasi dengan perspektif yang berbeda, yang mampu memberikan pemahaman secara lebih integratif.

 

1.2. Relevansi Dengan Pengetahuan/Pengalaman Mahasiswa

Apa yang dibahas dalam bab ini diharapkan bukan hanya memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang acuan untuk mendefinisikan dan menjelaskan Masyarakat Informasi tetapi juga mendorong minat mahasiswa untuk menelusuri dan mengkaji lebih jauh aspek-aspek teknologi, ekonomi, pekerjaan, spasial maupun budaya dalam perubahan Masyarakat Informasi.

 

1.3. Relevansi Dengan Kegunaan Bagi Mahasiswa Jika Kelak Bekerja

Bagi mahasiswa yang kelak akan berkecimpung di bidang pelayanan pengelolaan jasa informasi dan perpustakaan, pengetahuan tentang aspek-aspek teknologi, ekonomi, spasial maupun budaya dalam perubahan Masyarakat Informasi yang dibahas dalam bab ini diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka menyusun langkah-langkah atau program pengembangan perpustakaan/organisasi pengelola informasi di tengah Masyarakat Informasi.

 

1.4. Relevansi Dengan Bab atau Mata Kuliah Lain

            Bab ini adalah bagian pengantar yang sifatnya konseptual untuk dasar acuan untuk mengembangkan topik-topik yang lebih luas tentang berbagai hal yang berkaitan dengan aspek-aspek teknologi, ekonomi, pekerjaan, spasial maupun budaya dalam perubahan Masyarakat Informasi.

 

1.5. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) bab ini adalah menjelaskan kepada mahasiswa tentang karakteristik Masyarakat Informasi yang ditinjau dari 5 (lima) aspek yaitu teknologi, ekonomi, pekerjaan, spasial, dan budaya.

 

2. PENYAJIAN

2.1. Materi

            Adalah umum selama beberapa dekade mengatakan bahwa mereka yang ada di negara-negara maju seperti di Amerika Utara, Jepang, dan Eropa Barat hidup dalam sebuah “masyarakat informasi”. Klaim ini banyak berasal dari politisi, pendidik dan para industriawan, yang masing-masing berkepentingan dengan bagaimana menyiapkan diri secara bagus untuk bisa bersaing dalam jaman informasi. Sehingga apa yang sekarang akrab ialah istilah masyarakat informasi yang terlihat jarang menimbulkan kontroversi: Ia secara sederhana adalah bagian dari kosa-kata yang dapat diterima dari pendapat para pemimpin yang saat ini berbicara mengenai keadaan dunia.

            Kita bisa memrosesnya dengan membedakan sedikitnya lima definisi berbeda mengenai masyarakat informasi, yang masing-masing membawa kriterianya sendiri untuk mengidentifikasi yang baru. Kriteria tersebut adalah teknologi, ekonomi, pekerjaan, spasial, dan budaya. Mari kita selidiki masing-masing darinya.

 

1. Teknologi

            Definisi paling umum tentang masyarakat informasi terletak pada inovasi teknologi yang spektakular. Ide utamanya adalah terobosan pada proses, penyimpanan, dan penyebaran informasi yang mengarah pada diterapkannya teknologi informasi (TI) kedalam seluruh penjuru masyarakat secara virtual. Disini, pertimbangan utamanya adalah pengurangan luarbiasa pada biaya komputer, peningkatan pada kekuatannya, dan konsekuensi aplikasinya dimana pun. Oleh karena saat ini sangat gampang dan mudah menaruh komputer kedalam mesin ketik, mobil, alat pemasak nasi, jam tangan, mesin pabrik, televisi, mainan anak-anak…maka kita dipastikan mengalami lonjakan sosial dari keadaan tersebut dimana kita terpaksa memasuki era baru. Banyak buku, artikel majalah, dan presentasi televisi mendukung perkembangan genre berbeda-beda yang menawarkan sudut pandang ini: “mikro yang luarbiasa” akan mendorong keseluruhan “peradaban silikon” baru.

            Kadangkala versi yang lebih canggih dari rute teknologi ini pada masyarakat informasi lebih perhatian pada konvergensi telekomunikasi dan penghitungan (dimana sekarang istilahnya adalah ICT, Information and Communication Technology). Dalam contoh ini, argumentasinya berjalan disepanjang garis berikut: teknologi pengolahan dan penyimpanan informasi yang murah (komputer) menyebabkan komputer secara luas tersebar; salah satu area utama yang terpengaruh ialah telekomunikasi, utamanya beralihnya pusat-pusat dimana, ketika sudah terkomputerisasi, bergabung dengan perkembangan besar penghitungan dan mengalami kemajuan lebih dramati dalam manajemen dan distribusi informasi. Unifikasi ini secara khusus terjadi karena penyebaran luas alat-alat komputer yang demi penggunaan optimumnya, membutuhkan koneksi. Singkatnya, komputerisasi telekomunikasi artinya ialah komputer dapat dihubungkan dengan komputer lain: sehingga, prospek pertautan antar terminal didalam dan antar kantor, bank, rumah, toko, pabrik, sekolah dan dunia terjadi.

            Skenario komputer jejaring ini kerap dibandingkan dengan tersedianya listrik: “Aliran informasi” dilihat analog dengan pasokan listrik. Ketika aliran listrik mengaliri setiap rumah, kantor, pabrik, dan toko, maka aliran informasi menyediakan informasi apapun yang dibutuhkan. Tentu saja, ini merupakan sebuah proses evolusioner, namun dengan tersebarnya ISDN (integrated services digital network), kita pun memiliki elemen pondasi tentang “masyarakat informasi”. Ketika keadaan ini telah terbentuk, maka jaringan informasi itu menjadi jalan bebas hambatan dari jaman modern, sebagaimana halnya dengan jalan, rel kereta api, dan terusan yang menuju Jaman Industri. Jalan, rel kereta api, dan terusan itu sangat penting karena membawa materi dan barang sehingga menuju Revolusi Industri, oleh karena itu ISDN akan menyediakan infrastruktur pendukung bahan baku utama Masyarakat Pasca-Industri, yakni informasi. Cepatnya pertumbuhan Internet tampaknya akan membawa keadaan tersebut.

            Tak diragukan lagi, apa yang kita miliki disini ialah definisi teknologi tentang masyarakat informasi. Baik apakah hal ini adalah salah satu dari hasil dampak dramatis inovasi teknologi baru atau sebagai hasil akhir dari perkembangan sistem ISDN, semuanya merasakan teknologi menjadi ciri pembeda utama dari tatanan baru.

            Sangatlah menggoda mengabaikan pendekatan teknologi pada masyarakat informasi secara langsung. Ada suatu keadaan yang menceritakan kepada kita bahwa “Revolusi Komputer…akan memiliki dampak komprehensif, yang mempengaruhi setiap mahluk hidup dalam setiap aspek kehidupannya.” Genre futurisme yang mengadopsi irama ini secara karakteristik penuh dengan peringatan yang “membangkitkan”, dimana hanya penulis saja yang memahami apa yang perlu dimengerti oleh orang lain.

            Namun demikian, ada sesuatu yang brsifat siklus disini. Selama tahun 1980an, ada ketertarikan pada “revolusi mikroelektronik”, ini ditawarkan oleh James Martin dan Christopher Evans, sekaligus mendapatkan banyak perhatian media massa. Untuk sementara, revolusi ini menghilang, hanya kembali ketika ada perbincangan mengenai “information superhighway” ditahun 1990an dan dalam prosa periset MIT (Massachusetts Institute of Technology) Nicholas Negroponte. Akan tetapi, apabila penulis seperti Alvin Toffler, Christopher Evans, dan James Martin mendorong menuju penolakan terhadap kriteria teknologikal, dapat diakui bahwa banyak cendikiawan lain mengadopsi apa yang menjadi akar dari pendekatan yang sama. Di Inggris, misalnya, banyak aliran pemikiran telah mendesakan pendekatan neo-Schumpeterian agar diubah. Dengan menggabungkan pendapat Schumpeter bahwa inovasi teknologi utama akan membawa “pengrusakan kreatif” dengan tema dari Kondratieff tentang “gelombang panjang” dari perkembangan ekonomi, para periset itu berpendapat bahwa TI mewakili pembentukan epos baru. “Paradigma tekno-ekonomi” baru ini menghasilkan Jaman Informasi yang diatur matang terlalu dini dalam abad pertama masa milenium.

            Dilain tempat, Piore dan Sabel berpendapat bahwa adalah teknologi baru yang memberikan landasan bagi cara kerja yang benar-benar sangat berbeda – “spesialisasi fleksibel”. Terima kasih untuk teknologi komunikasi dan komputer, dan sisi informasi yang mereka berikan kepada perusahaan-perusahaan kecil yang sekarang mampu dengan cepat menilai pasar sekaligus meresponnya, yang merupakan suatu prospek untuk mengakhiri “produksi masal” dan menggantikannya dengan produk-produk yang dibuat oleh pengrajin-pengrajin berkeahlian ganda serta mudah beradaptasi.

            Dapat dikatakan bahwa definisi teknologi dari masyarakat informasi ini memang tampak sesuai. Lebih penting lagi, apabila memungkinkan melihat “serangkaian penemuan” – mesin uap, mesin pembakaran internal, listrik, pesawat terbang, dll. – sebagai karakteristik utama dari “masyarakat industrial”, maka mengapa tidak menerima perkembangan yang sama dalam TI sebagai bukti dari jenis masyarakat yang baru? Sebagaimana dikatakan oleh John Naisbitt: “Teknologi komputer adalah untuk jaman informasii sementara mekanisasi adalah untuk revolusi industri.”. Untuk itu mengapa tidak?

            Definisi teknologi untuk masyarakat informasi haruslah perlu mempertimbangkan keberatan yang ada:

i) Apabila teknologi adalah kriteria utama untuk menerangkan suatu masyarakat, maka mengapa tidak menyebutnya era yang sedang bangkit itu “masyarakat berteknologi-tinggi” atau “jaman otomasi?” Dengan adanya banyak kemungkinan cara dimana orang dapat menyebut masyarakat yang TI-nya sangat dominan didalamnya – Masyarakat Silikon? Masyarakat Cybernetik? Jaman Robotik? -  mengapa memilih menyebutnya sebagai “masyarakat informasi?”. Jika teknologi adalah kuncinya, maka agak sulit melihat mengapa diperlukan awalan informasi untuknya. Tetapi sekali lagi “masyarakat teknologi” jarang memunculkan ide dunia yang baru, atau bahkan berbeda secara signifikan sebagaimana terjadi dalam masyarakat informasi.

ii) Ketika orang membaca literatur yang menceritakan tentang perubahan yang dibawa oleh teknologi baru, orang tidak dapat, namun terguncang oleh kehadirannya. Baik apakah itu pembelajaran tentang dampak dari revolusi mikroelektronik dirumah, konsekuensi robotik bagi pabrik, atau naikknya kekuatan “gelombang ketiga” dari komputer, telekomunikasi dan bioteknologi yang mengumandangkan “matinya industrialisme dan bangkitnya peradaban baru”, yang mana terdapat realitas bukti-mandiri tentang kekinian dari teknologi baru. Oleh karena hal ini memang terjadi demikian, dan masing-masing dari kita dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri, maka tampak jelas bahwa teknologi adalah valid sebagai ciri pembeda dari masyarakat baru. Tetapi, saat orang ingin membuktikan lebih lanjut, orang tidak dapat tapi terguncang juga dengan kurang jernihnya teknologi dalam buku-buku sekarang, dimana pertanyaannya adalah Dalam masyarakat ini sekarang, berapa banyak TI yang ada dan sejauh mana TI itu membawa kita menuju status masyarakat informasi? Seberapa banyak TI diperlukan alam usaha mengidentifikasi suatu masyarakat informasi? Sementara untuk pertanyaan tindakan yang bermanfaat, orang menjadi sadar bahwa mereka yang menekankan teknologi tidak akan mampu memberi kepada kita segala hal dunia-nyata atau dapat diuji. Tampaknya mulai terlihat bahwa hal itu terjadi dimana-mana.

Persoalan pengukuran ini, serta kesulitan yang terkait dengan penentuan pandangan pada skala teknologi dimana masyarakat dinilai saat memasuki jaman informasi, sudah pasti menjadi titik pusat bagi diterimanya definisi tentang jenis masyarakat baru. Namun ini diabaikan oleh para futuris-futuris popular. Teknologi baru telah diumumkan dan mudah dipaparkan bahwa pengumandangan ini dengan sendirinya berada didalam dan diuar masyarakat informasi. Isu ini juga secara mengejutkan juga dipotong oleh cendikiawan lain yang menilai bahwa TI adalah indeks utama dari masyarakat informasi. Mereka bermaksud untuk menerangkan, dalam istilah umum, inovasi teknologi, yang kadangkala ini telah cukup untuk membedakan masyarakat baru. Namun demikian, ada sejumlah cendikiawan serius yang tidak bermaksud untuk hal ini sekaligus menemukan bahwa isu pengukuran menybabkan adanya hambatan bagi kemajuan. Pertama, bagaimana orang mengukur tingkat difusi teknologi, dan kedua saat masyarakat berhenti menjadi kategori “industrial” dan masuk ke kategori “informasi”? Ini adalah pertanyaan yang sulit. Contohnya, di Inggris, satu dekade riset ilmiah sosial oleh PICT (Programme on Information and Communication Technologies), orang diberi pemetaan dan mengukur masyarakat informasi, belumlah menghasilkan cara definitif memenuhi tujuannya. Tentu saja, ada kemajuan disana, dengan beberapa studi menggambarkan difusi beberapa TI kedalam pabrik dan kantor. Namun, bagaimana orang menilai difusi tersebut dalam istilah yang lebih umum: dengan belanja TI (meski dengan adanya harga yang dikenakan pada teknologi baru, bagaimanakah orang membedakan variabel ekonomi dari elemen paling sentral dari kapasitas penanganan informasi?) atau dengan sejumlah dan kisaran TI yang diperkenalkan? Haruskah orang dipusatkan pada belanja TI atau apakah lebih baik meneliti hal ini berdasarkan kelembagaan saja? Bagaimanakah orang menentukan signifikansi perluasan aplikasi mikrokomputer vis-à-vis sistem mainframe? Dan, apabila orang memilih untuk fokus pada pengambilan TI, maka apa yang bisa diperhitungkan sebagai teknologi yang relevan? Contohnya, haruskah video game tiba sebelum personal computer, sistem jejaring tiba sebelum aplikasi robotik? Selanjutnya, ketika orang mungkin mampu membayangkan waktu dimana beberapa tindakan “informatisasi” telah dikembangkan sehingga memperoleh penerimaan luas, orang masih saja tetap tertinggal dengan sistem yang ada: Dimana sepanjang grafik tersebut ada titik balik yang memisahkan masyarakat informasi dari “industrial modern?”

iii) Terakhir, kritikus keberatan dengan mereka yang menilai bahwa teknologi kali pertama ditemukan sehingga berdampak pada masyarakat dan memaksa orang untuk meresponnya dengan menyesuaikan diri pada hal-hal baru. Teknologi dalam versi ini sangatlah istimewa daripada yang lainnya; oleh karenanya, tiba saatnya untuk mengenali dunia sosial secara keseluruhan: Jaman Mesin Uap, Jaman Automobil, Jaman Atom. Disini, penolakan sentralnya bukan pada penentu teknologi yang tak bisa dihindari – dimana teknologi dianggap sebagai dinamika sosial utamanya – dan sebagai penyederhanaan berlebihan dari proses perubahan. Jauh lebih penting lagi ialah teknologi masuk secara keseluruhan ke bidang sosial, ekonomi dan politik. Ini mengikuti dari dan bagian dari liga premier teknologi yang muncul menjadi pengusahaan-diri meskipun meninggalkan kesan pada semua aspek masyarakat.

            Namun, adalah sangat demonstratif apabila teknologi tidak dipisahkan dari kenyataan sosial. Sebaliknya, teknologi adalah bagian integral – benar-benar konstituitif – dari sosial. Contohnya, pengambilan keputusan penelitian dan pengembangan adalah mengekspresikan prioritas, dan dari penilaian ini, khususnya jenis teknologi yang dihasilkan (misalnya proyek-proyek militer yang menerima pendanaan lebih banyak daripada proyek kesehatan diabad kedua puluh – sehingga tidaklah mengejutkan, konsekuensinya adalah perkembangan modern dari sistem persenjataan daripada kemajuan pengobatan untuk, katakanlah, penyakit demam). Banyak kajian menunjukkan bagaimana teknologi mengandung kesan nilai-nilai sosial, baik apakah itu dalam disain arsitektur jembatan di New York dimana ketinggiannya diatur sedemikian rupa sehingga dapat mencegah sistem transit umum melewati wilayah tertentu; manufaktur mobil yang menguji nilai-nilai dari kepemilikan pribadi (yang berbeda dengan transportasi umum); dalil tentang bentuk keluarga (tipikalnya dua orang tua, dua anak); sikap terhadap lingkungan (pembatasan penggunaan energi yang tak bisa diperbarui disamping polusi); serta simbol-simbol status (mobil Porsche, Mini, Rover); atau pembangunan rumah yang tidak hanya dijadikan tempat tinggal saja melainkan juga ekspresi dari cara kehidupan, prestise dan hubungan kekuasaan, serta kesukaan akan banyaknya gaya hidup. Sekali lagi, kekuatan pasar memang mempunyai pengaruhi jelas terhadap apa yang didapatkan secara teknologi: korporasi memikirkan konsumen dan konsumen berpotensi sebelum memproduksi, sehingga tidaklah mengejutkan bahwa ada batasan pada apa yang bisa dibuat dengan kemampuan memberikan kriteria. Dengan cara yang sama, diktum direktur korporat “biaya sedikit, produktifitas meningkat” telah menjadi pengaruh kuat atas apa yang dihasilkan oleh para insinyur, sehingga memperlunak pendekatan terhadap mereka yang menganggap bahwa teknologi adalah kekuatan pengendali perubahan.

            Ada banyak literatur untuk isu ini yang tak perlu diulas lagi. Semua hal yang dibutuhkan adalah keadaan rasa keberatan terhadap hipostatisasi teknologi seperti yang diterapkan pada persoalan penjelasan tentang masyarakat informasi. Bagaimana bisa dapat diterima ketika mengambil apa yang dianggap sebagai fenomena asosial (teknologi) dan menilai bahwa hal tersebut kemudian bisa menerangkan dunia sosial ketika ditunjukan bahwa dikotominya tidak nyata karena teknologi adalah bagian tak terpisahkan dari dunia sosial?

 

2. Ekonomi

Terdapat subdivisi ekonomi yang mengkhususkan diri pada “ekonomi informasi.” Dari sinilah, dan memang sebagai pendiri dari spesialisme ini, almarhum Fritz Machlup (1902-1983) telah mengabdikan banyak kehidupan profesionalnya demi tujuan menilai ukuran dan pertumbuhan industri informasi. Karya rintisan Machlup, The Production and Distribution of Knowledge in the United States, telah disebarkan demi membentuk ukuran masyarakat informasi dalam istilah ekonomi. Machlup berusaha menelusuri industri informasi dalam istilah statistikal. Ia membedakan 5 kelompok industri (yang diuraikan kedalam 50 sub-cabang) yaitu:

i)          pendidikan (sekolah, akademi, perpustakaan)

ii)         media komunikasi (radio, televisi, iklan)

iii)        mesin informasi (perlengkapan komputer)

iv)        jasa informasi (hukum, asuransi, pengobatan)

v)         aktifitas informasi lainnya (riset dan pengembangan)

            Machlup, yang bekerja dengan kategori ini, kemudian berusaha menerangkan nilai ekonomi dari masing-masing dan berusaha menelusuri kontribusinya terhadap gross national produce (GNP). Apabila trennya meningkatkan GNP, maka orang bisa mengklaim munculnya “ekonomi informasi”. Inilah yang diajukan oleh Machlup dalam studi awal, yang perhitungannya mencapai 29% dari GNP Amerika Serikat ditahun 1958 adalah berasal dari inustri ilmu pengetahuan – yang merupakan tingkat ekspansi yang bisa ditandai.

            Diawal tahun 1960an, sarjana manajemen Peter Drucker berpendapat bahwa ilmu pengetahuan “tlah menjadi landasan dari ekonomi modern” karena kita telah berubah “dari ekonomi barang menuju ekonomi ilmu pengetahuan.” Saat ini, adalah umum berpendapat bahwa kita telah masuk ke masyarakat dimana “pembedaan karakteristik adalah ilmu pengetahuan dan organisasi adalah pencipta-pencipta utama kekayaan?

            Mungkin studi yang paling terbaik – dan tentu saja yang paling sering dikutip – adalah studi tentang kemunculan ekonomi informasi yang dirasakan melalui sembilan volume laporan dari Marc Porat. Saat memasukkan industri ke lima kategorinya, Machlup mengadopsi definisi katolik tentang “produksi ilmu pengetahuan” yang secara luas mencakup hal yang menghasilkan informasi baru dan yang mengkomunikasikannya. Porat mengumandangkan banyak pendekatan Machlup dalam kaitannya dengan sumber statistikal pmerintah didalam merancang model komputer ekonomi AS diakhir tahun 1960an, namun membagi perekonomian antara sektor “primer”, “sekunder” dan “non-informasi”.Skema tripartite ini berasal dari pengidentifikasian dirinya terhadap kelemahan pendekatan Machlup yang gagal menguraikan aktifitas informasi yang disamarkan dari penelitian awal; misalnya, oleh karena aktifitas informasi adalah elemen in-house dari industri lain. Porat memasukkan kedalam sektor informasi primer semua industri yang menyediakan informasi untuk pasar atau pun untuk tempat lain dimana nilai ekonomi dapat diterangkan (misalnya, media massa, pendidikan, iklan, manufaktur komputer. Sehingga:

            Sektor informasi primer meliputi…industri-industri dimana dalam beberapa cara memproduksi, mengolah, menyebarkan ilmu pengetahuan atau pesan. Kesatuan definisinya ialah barang dan jasa yang membentuk sektor primer harus bernilai secara fundamental untuk mengahsilkan, mengolah, atau menyebarkan karakteristik informasinya.

            Akan tetapi, Porat kemudian berusaha mengenali sektor informasi sekunder yang bisa membuatnya memasukkan kedalam tipologinya aktifitas-aktifitas informasional penting seperti penelitian dan pengembangan didalam perusahaan farmasi, informasi yang dihasilkan oleh departemen-departemen pemerintah untuk konsumsi internal, dan sumber-sumber perpustakaan dari korporasi minyak bumi. Sehingga:

            Sektor informasi sekunder meliputi aktifitas-aktifitas informasional dari birokrasi publik dan birokrasi privat. Birokrasi privat ialah bagian dari bentuk non-informasi yang terlibat didalam aktifitas informasional murni, seperti penelitian dan pengembangan, perencanaan, pengendalian, pemasaran, dan rekaman-catatan…Birokrasi publik meliputi semua fungsi informasional dari pemerintah federal, negara bagian maupun pemerintah lokal.

            Dengan cara ini, Porat mampu membedakan dua sketor informasi, kemudian mengkonsolidasikannya, memisahkan elemen non-informasional dari ekonomi, dan, dengan mengumpulkan kembali statistik ekonomi nasional, mampu menyimpulkan bahwa lebih dari 46% GNP AS dicapai melalui sektor informasi. Ipso Facto “Amerika Serikat sekarang adalah negara dengan ekonominya berbasiskan informasi”. Bila memang demikian, Amerika Serikat adalah “masyarakat informasi dimana arena utama dari aktifitas ekonomi adalah produsen barang dan jasa informasi, birokrasi umum dan privat [sektor informasi kedua]”.

            Kuantifikasi signifikansi ekonomi dari informasi ini adalah prestasi yang mengesankan. Sehingga tidaklah mengejutkan bahwa bagi mereka yang yakin kemunculan masyarakat informasi secara rutin telah beralih ke Machlup dan khususnya Porat karena memperlihatkan bangkitnya kurva aktifitas informasi, suatu keadaan yang mengarah pada jaman baru.

            Namun demikian, ada kesulitan dengan pendekatan ekonomi informasi ini. Salah satunya, dibelakang tabel statistik yang merupakan resonan dari demonstrasi obyektif, terdapat hubungan besar antara interpretasi tersembunyi dan penilaian terhadap nilai karena bagaimanakah menyusun kategori dan apa saja yang perlu dimasukkan atau tidak dimasukkan kedalam sektor informasi.

            Dalam kaitannya dengan ini, apa yang perlu ialah baik Machlup dan Porat membuat kategori sektor informasi yang melebihi nilai ekonominya. Ada beberapa alasan untuk mempertanyakan nilai dari kategori tersebut. Contohnya, Machlup memasukkan kedalam “industri ilmu pengetahuannya” “konstruksi bangunan informasi” dimana dasarnya adalah bangunan untuk, katakanlah universitas atau perpustakaan yang dapat dibedakan dari konstruksi gudang. Tetapi kemudian bagaimana orang bisa mengalokasikan banyak bangunan yang mengubah tujuan (banyak bangunan universitas di Inggris berada dirumah-rumah domestik dan rumah negara)?

            Sekali lagi, Porat mengenal “kuasi-kaku” yang melekat dalam organisasi non-informasional. Namun, apakah dapat diterima dari asumsi yang beenar bahwa LITBANG dalam sebuah perusahaan petrokimia melibatkan aktifitas informasional, untuk memisahkannya dari elemen manufaktur demi tujuan statistikal? Tampak mungkin bahwa aktifitasnya sendiri agak kabru, dengan bagian LITBANG sangat erat terkait dengan bagian produksi. Lebih umum lagi, ketika Porat meneliti sektor informasi sekundernya, ia memisahkan setiap industri kedalam domain informasional dan non-informasional. Tetapi pembagian semacam itu antara pemikiran dan tindakan sangat sulit diterima – bagaimanakah orang meletakkan operasi sistem kendali numerik komputer atau fungsi manajemen lini yang merupakan elemen integral dari produksi? Agar yakin, orang bisa mengatakan bahwa segala hal yang ada disini melibatkan informasi – dan seperti nanti kita lihat, banyak penulis mengetahui perluasan dari pekerjaan “manajer” dan “buruh” sebagai alasan atas tibanya masyarakat informasi – namun ini bukanlah intinya. Rasa keberatan disini ialah Porat membagi kedalam industri untuk menggambarkan sektor informasi sekunder yang berlawanan dengan keadaan non-informasional.

            Keberatan semacam itu tidak seluruhnya menyalahkan penemuan Machlup dan Porat, dan memang keduanya sendiri tidak bermaksud demikian, namun keduanya adalah pengingat dari penilaian yang tak bisa dihindari didalam menyusun tabel-tabel statistikal mereka. Bila memang demikian, keduanya mendukung skeptisisme yang sehat terhadap ide-ide ekonomi informasi yang muncul.

            Kesulitan kedua ialah data agregat aktifitas ekonomi adalah homogen. Sehingga sangatlah mungkin mengatakan bahwa pertumbuhan dalam nilai ekonomi dari iklan dan televisi adalah indikasi dari masyarakat informasi, tapi orang perlu membedakan antara aktfitas informasional yang didasarkan pada kualitatif atau kuantitatif. Ketika menanyakan karakteristik apa yang dinilai secara ekonomi lebih sentral, lebih strategis, terhadap kemunculan masyarakat ekonomi, ini meminta agar para cendikiawan membedakan antara, katakanlah informasi yang berasal dari pusat-pusat riset kebijakan, think tank korporat, rumah keuangan transnasional, perusahaan manufaktur dari kamera 35-mm, disainer piranti lunak dan copywriter iklan.

            Antusiasme dari para pakar ekonomi informasi untuk meletakan harga pada segalanya memiliki konsekuensi kegagalan tak menguntungkan untuk membiarkan kita mengetahui dimensi berharga sesungguhnya dari sektor informasi. Pencarian untuk membedakan antara indeks kuantitatif dan kualitatif tentang masyarakat informasi tidak dikejar oleh Machlup dan Porat, tampak jelas bahwa 4 juta penjualan setiap hari dari The Sun tidak bisa disamakan dengan 400.000 atau lebih dari sirkulasi The Financial Times. Ini adalah sebuah perbedaan dimana kita harus kembali, tapi orang dapat menyebutkan kemungkinan dimana kita bisa mempunyai masyarakat yang, dengan diukur oleh GNP, sedikit mengandung konsekuensi.

            Tentu saja, pakar-pakar ekonomi ini sangat perhatian dengan perkembangan pengukuran kuantitatif sektor informasi, sehingga isu tentang nilai kualitatif dari informasi akan relevan terbatas dengannya. Namun demikian, masih tetap ada persoalan. Pertama adalah pertanyaan mengenai “pada titik manakah diatas grafik ekonomi orang memasuki masyarakat informasi?” Saat 50% dari GNP didedikasikan untuk aktifitas informasional? Ini tampaknya terlihat menjadi titik yang wajar. Namun, hal buruk bagi pakar-pakar teori masyarakat informasi. Replikasi studi Machlup dan Porat menyebabkan orang menentukan setiap awal dari jaman baru. Dalam pembaruan berskala besar terhadap studi Machlup, Rubin dan Huber menyimpulkan bahwa di Amerika Serikat, sumbangsih “industri ilmu pengetahuan” terhadap GNP meningkat dari 28,6% menjadi 34,3% antara tahun 1958 dan 1980, dengan tanpa perubahan virtual sejak 1970, hal ini membentuk “tingkat menengah ekstrim pertumbuhan relatif terhadap tingkat rata-rata pertumbuhan dari komponen lain total GNP”. Studi ekonometrik ini adalah terompet dari tibanya masyarakat informasi.

 

3. Pekerjaan

            Pengukuran popular dari kemunculan masyarakat informasi ialah pengukuran yang terpusat pada perubahaan pekerjaan. Sederhananya, tujuannya adalah kita mencapai masyarakat informasi ketika pradominansi pekerjaan ditemukan dalam pekerjaan informasi. Yaitu, masyarakat informasi muncul ketika pegawai kantoran, guru, pengacara, dan penghibur melebihi jumlah pekerja tambang batu bara, pekerja jalanan, pekerja pelabuhan dan pekerja bangunan. Landasan kerja intelektual untuk konsepsi masyarakat informasi ini dibuat oleh Daniel Bell (1919-) ditahun 1960an, tapi sangat bagus menekankan bahwa definisi ini lebih banyak menikmati popularitasnya dikarenakan perubahan dari pengukuran teknologikal ke pengukuran pekerjaan. Disini penekanannya adalah pada pembuat janji, orang-orang yang “berpikir cerdas” dan cepat dalam dunia yang berubah-pesat. Reich menyebut hal ini sebagai “para analis simbolik”, yakni mereka yang memikirkan, merencanakan, berinovasi, dan mengatur “ekonomi baru”. Mereka bisa bekerja dalam “industri kreatif” (media, disain, seni), konsultansi, atau manajemen umum, namun ide popularnya ialah para pekerja informasi itu adalah kunci untuk kemakmuran masa mendatang. Apa yang mereka miliki secara umum ialah pendidikan tingkat tinggi, dan prioritas yang ditempatkan oleh pemerintah nasional ialah pada kemampuan sistem pendidikan mereka didalam mencetak orang-orang seperti itu.

            Definisi pekerjaan kerap digabungkan dengan tindakan ekonomi. Porat, misalnya, dimana karyanya kita telah bahas dibagian depan, telah menghitung bahwa sampai akhir tahun 1960an, sedikit dibawah separo angkatan kerja AS bekerja dalam sektor informasi, suatu pertumbuhan nyaris 500% selama seabad dimana lapangan pekerjaan pertanian terpuruk dan pekerjaan informasi luas terbuka. Porat mengkaitkan pertumbuhan dalam ekonomi informasi dengan pola-pola perubahan sifat pekerjaan sebagai berikut:

            Di tahun 1967, 25,1% dari GNP AS berasal dari produksi, pengolahan, dan penyaluran barang dan jasa informasi yang dijual dipasar. Sebagai tambahan, persyaratan informasional murni untuk merencanakan, mengkoordinasi, dan mengelola ekonomi mencapai 21,1% dari GNP. Aktifitas informasi ini telah melibatkan lebih dari 46% angkatan kerja, yang menghasilkan pendapatan lebih dari 53% dari semua penghasilan buruh. Dengan kuatnya penemuan ini, maka kami menyebutnya sebagai “ekonomi informasi”.

            Diatas permukaan, berubahnya penyaluran pekerjaan tampaknya adalah tindakan penyesuaian. Lebih penting lagi, tampak jelas bahwa ketika pekerjaan membutuhkan kekuatan fisik dan cara manual, sebagaimana mengelola tambang batu bara dan lahan pertanian, menurun digantikan dengan pekerjaan manipulasi gambar dan teks, seperti dalam pendidikan dan birokrasi besar, sehingga kita memasuki jenis masyarakat baru. Saat ini “hanya sedikit angkatan kerja yang bekerja dipabrik…dan pasar pekerja sekarang didominasi oleh operasi informasi yang menafkahi mereka dengan informasi apa yang mereka miliki yang diperlukan untuk mengerjakan sesuatu.”

            Pengenal dari masyarakat informasi adalah terletak pada perubahan pekerjaan seperti indeks dari pendekatan terhadap jaman baru, sebagaimana nanti terlihat didalam pengenalan teknologi baru. Dan, sejumlah besar gabungan dari keduanya, karena teknologi baru dan lapangan pekerjaan informasional nyaris sinonim. Namun demikian, perlu dicatat bahwa definisi pekerjaan adalah tetap sama seperti definisi yang mengenali masyarakat informasi dengan mengambil teknologi baru. Banyak pekerjaan informasi (misalnya guru) mungkin sedikit memanfaatkan TI, sementara banyak pekerjaan non-informasional terpengaruh dramatis oleh teknologi baru (misalnya, operasi pabrik, pekerja checkout supermarket).

            Perubahan dalam penyebaran pekerjaan adalah inti dari teori masyarakat informasi yang paling berpengaruh. Disini Bell melihat, dalam kemunculan “masyarakat kerah-putih” (dan kemudian pekerjaan informasi) dan dalam menurunnya perubahan pekerjaan industri sampai berakhirnya konflik politik berbasis-kelompok, yang lebih bersifat kesadaran komunal dan perkembangan kesetaraan antar jenis kelamin.

            Robins dan saya telah mengkritisi teorisasi Bell, namun disini sangatlah sesuai mengangkat beberapa keberatan umum atas pengukuran pekerjaan dari masyarakat informasi. Persoalan utamanya adalah berhubungan dengan metodologi pengalokasian pekerja pada kategori tertentu. Produk akhir – sebuah figur statistikal yang memuat persentase tepat dari “pekerja informasi” – menyembunyikan pemrosesan rumit dimana para peneliti menyusun kategorinya dan mengalokasikan orang satu sama lain.

            Porat, misalnya, mengembangkan apa yang menjadi tipologi berpengaruh untuk menempatkan pekerjaan yang secara utama terlibat dalam produksi, pemrosesan atau penyaluran informasi. Karyanya adalah skema tiga-kali lipat yang memuat lebih dari 400 jenis pekerjaan yang dilaporkan oleh US. Census and Bureau of Labor Statistic. Ia menjelaskannya sebagai berikut:

            Kategori pertama meliputi para pekerja yang outputnya sebagai aktifitas primer adalah memproduksi dan menjual ilmu engetahuan. Yang termasuk disini adalah para ilmuwan, inventor, guru, pustakawan, jurnalis, dan penulis. Kelompok pekerja utama kedua adalah mereka yang mengumpulkan dan menyebarkan informasi. Para pekerja ini menggerakkan informasi kedalam perusahaan-perusahaan dan pasar; mereka mencari, mengkoordinasi, merencanakan, dan memroses informasi pasar. Yang termasuk disini adalah para manajer, sekretaris, pegawai tata buku, pengacara, pialang, dan juru ketik. Kelompok terakhir meliputi para pekerja yang mengoperasikan mesin dan teknologi informasi yang mendukung dua aktifitas sebelumnya. Yang termasuk disini ialah para operator komputer, installer telepon, dan tukang servis televisi.

            Jonscher kemudian menyederhanakan hal ini, dengan hanya mengambil dua sektor ekonomi: pertama, “sektor informasi” dimana orang mempunyai fungsi utamanya adalah membuat, memroses, dan menangani informasi; kedua, “sektor produksi”, dimana para pekerja membuat, mengolah dan menangani barang fisik. Perbedaan ini muncul wajar, tepat, dan secara empiris sah, namun muncul kesulitan. Setidaknya ada sesuatu yang sangat disadari oleh Porat, yaitu “menyebutkan dengan tepat siapakah yang dimaksud dengan pekerja informasi dan siapakah yang tidak, yang merupakan dalil beresiko. Porat mengakui hal ini dalam usahanya membedakan pekerjaan non-informasional dari informasional berdasarkan atas perkiraan sejauh mana setiap tipe terlib at bersama informasi. Dengan kata lain, kategorisasi adalah persoalan menilai sejauh mana pekerjaan itu bersifat informasi atau tidak. Persentase kasar dari pekerja informasi selanjutnya menyamarkan fakta bahwa mereka adalah hasil akhir dari estimasi para periset.

            Contohnya, pekerja pemberi sinyal kereta api harus mempunyai persediaan pengetahuan yang cukup tentang lintasan dan jadwal, tentang peranan dan rutinitas; ia perlu berkomunikasi dengan petugas sinyal lain sepanjang rel, bersama personil stasiun dan pengemudi mesin; ia diminta memiliki “pengetahuan tentang blok” miliknya dan kabin orang lain, harus tepat dan paham akan semua lalu lintas yang berada diwilayahnya, serta sedikit membutuhkan kekuatan fisik untuk mengangkat karena pesatnya perlengkapan modern. Namun, pegawai sinyal kereta api tak diragukan lagi adalah pekerja manual dari Jaman Industri. Sebaliknya, orang yang memperbaiki mesin fotokopi mungkin hanya sedikit mengetahui produk lain selain daripada apa yang pernah ia tangani; bisa jadi ia bekerja dalam lingkungan yang panas, kotor, dan tak nyaman; dan mungkin perlu mempertimbangkan kekuatan saat mengangkat mesi dan mengganti suku cadang yang rusak. Namun, ia tak diragukan lagi dapat dikelompokkan sebagai pekerja informasi karena ia bekerja dengan mesin jaman baru yang sesuai dengan interpretasi Porat.

            Poin yang ingin dibuat disini adalah sederhana. Kita perlu menjadi skeptikal terhadap figur konklusif yang merupakan hasil akhir dari persepsi periset tentang pekerjaan apakah yang tampaknya sangat sesuai. Sebagai suatu fakta, para ilmuwan sosial sangat sedikit mengenal detil dan rumitnya pekerjaan orang; ada beberapa etnografi yang merekam bahan dari kehidupan kerja. Dan para periset sedang berusaha memberikan label pekerjaan informasi dan non-informasi.

            Orang perlu menyadari penyederhanaan berlebihan yang bisa berasal dari pengalokasian banyaknya pekerjaan untuk hal yang sama. Miles dengan benar mengamati bahwa “kategori pekerjaan dibawah judul yang berbeda sering sangat bersifat heterogen”. Ketika orang mempertimbangkan, misalnya, bahwa kategori pertama Porat (produsen informasi) meliputi ahli optik, asisten perpustakaan, komposer, penulis buku, profesor universitas, dan insinyur, maka kategori keduanya (distributor informasi) meliputi para jurnalis pada suratkabar-suratkabar bermutu dengan para pengirimannya dijalanan, dan ketika OECD (Organisation for Overseas Cooperation and Development) meletakkan bersama-sama sebagai produsen informasi, ahli fisika, pialang komoditas, dan pelelang, maka orang bisa meragukan tentang nilai dari komposisi pekerjaan tersebut sebagai alat untuk mengenali perubahan sosial. Selanjutnya, apa saja diversitas pekerjaan itu, masing-masing dengan jabatan yang sama? Pustakawan, misalnya, dapat menghabiskan waktu baik dengan mengeluarkan buku untuk dipinjam atau menata ulang buku yang dikembalikan, seperti halnya seseorang yang secara rutin terlibat dalam pengasuhan akademik berdasarkan sumber-sumber informasi terbaik untuk kemajuan riset. Sekali lagi, kisaran liputan jurnalis mulai dari kehidupan seks para selebriti, reporter yang menulis tentang pernikahan lokal, sampai para penulis yang karyanya dapat memenuhi analisa terbaik dari profesor universitas.

            Terakhir, konsekuensi utama dari homogenisasi ini ialah suatu kegagalan didalam mengenali pekerjaan informasi yang lebih strategis. Sementara metodologi bisa memberi kepada kita gambaran sejumlah besar pekerjaan informasi yang terjadi, bukan memberikan alat pembeda dimensi utama dari pekerjaan informasi. Pengejaran terhadap tindakan kuantitatif pekerjaan informasi mengaburkan kemungkinan bahwa pertumbuhan jenis tertentu dari pekerjaan informasi mungkin mempunyai konsekuensi khusus bagi kehidupan sosial.

            Saya terkesan dengan perbedaan ini saat berkomentar tentang tindakan ekonomi dari masyarakat informasi, tetapi hal ini bagus sebagai penghargaan terhadap tindakan pekerjaan karena sebagian komentator berusaha mengelompokkan masyarakat informasi dalam arti “inti dari profesi”, sementara yang lain masih fokus pada sumber-sumber alternatif dari pekerjaan informasi sentral secara strategis. Perlu dikatakan bahwa menghitung jumlah pekerja informasi dalam suatu masyarakat tak akan memberitahu kepada kita apa-apa kecuali tentang hirarki – dan variasi terkaitnya dengan kekuasaan dan harga diri – dari orang-orang tersebut. Contohnya, dapat dikatakan bahwa isu utamanya adalah tumbuhnya para insinyur komputer dan telekomunikasi karena ini bisa membawa pengaruh menentukan atas langkah inovasi teknologi. Tingkat ekspansi yang sama, bahkan mungkin lebih besar, daripada pekerja sosial didalam mengatasi persoalan populasi yang semakin berusia lanjut, semakin tingginya keterpisahan keluarga dan kenakalan remaja mungkin sedikit atau bahkan tak ada hubungannya dengan masyarakat informasi, meski tak diragukan lagi para pekerja sosial akan dikelompokkan dengan para insinyur TI sebagai pekerja informasi.

            Atau bisa saja dikatakan bahwa pekerjaan informasi itu adalah “lingkaran dalam” dari para pemimpin korporat, yang cukup berbeda dari para pendahulunya, yang merupakan indeks paling menentukan dari masyarkat informasi. Mereka ini adalah orang-orang yang diberdayakan dengan keahlian berkomunikasi, kemampuan analitikal, meramal, dan memiliki kapasitas merumuskan kebijakan yang strategis, yang sekaligus menikmati latarbelakang pendidikan istimewa, yang terhubung dengan klum dan afiliasi, ditambah akses ke teknologi informasi dan komunikasi yang canggih. Kesemuanya ini memberi kepada mereka daya ungkit tinggi atas urusan sosial, ekonomi dan politik ditingkat nasional maupun internasional. Mereka adalah para spesialis informasi namun secara radikal berbeda dari para pekerja informasi dimana para ahli metodologi kuantitatif akan mengabaikannya.

            Mungkin kita lebih baik memahami kebutuhan ini untuk secara kualitatif membedakan antara kelompok pekerja informasi dengan merefleksikannya pada studi terbaru oleh sejarawan sosial Harold Perkin. Didalam The Rise of Professional Society, Perkin berpendapat bahwa sejarah Inggris sejak tahun 1880 dapat ditulis sebagai bangkitnya “para profesional” yang diatur dengan “modal manusia yang tercipta karena pendidikan dan diperkuat oleh eksklusi dari yang tak berkualitas”. Perkin berpendapat bahwa keahlian bersertifikat adalah “pengaturan prinsip masyarakat pasca-perang”, dimana yang ahli menggeser kelompok yang pernah dominan (organisasi kelompok kerja, pengusaha kapitalis, dan aristokrasi) beserta ide-ide lama mereka (kerjasama dan solidaritas, properti dan pasar, dan hubungan paternal) bersama-sama etos profesional dalam hal jasa, sertifikasi, dan efisiensi. Untuk pastinya, para profesional didalam sektor swasta berpendapat cukup kuat dengan mereka yang umum, namun Perkin menekankan bahwa hal ini adalah perjuangan saling terkait, yang berada didalam “masyarakat profesional”.

            Pembahasan Alvin Gouldner tentang “kelompok baru” memberikan pelengkap yang menarik terhadap karya Perkin. Gouldner mengenali jenis pekerja baru yang telah menyebarluas di abad kedua puluh, sebuah kelompok baru yang “terdiri dari para intelektual dan intelegensia teknik”, yang bisa menguji kendali bisnis dan para pemimpin partai. Disamping potensi kekuatan ini, kelompok baru dengan sendirinya terbagi dalam beberapa cara. Pembagian utamanya adalah antara mereka yang merupakan bagian dari teknokratik dan konformis, serta para intelektual humanis yang kritis dan emansipatoris dalam orientasi. Sampai sejauh ini, perbedaan ini dinyatakan dalam konflik yang diketahui oleh Perkin antara para profesional sektor swasta dan umum Contohnya, kita bisa menjumpai bahwa para akuntan dalam sektor swasta adalah konservatif, sementara terdapat peluang bagi intelektual untuk menjadi radikal.

            Titik utama kita disini ialah baik Gouldner dan Perkin sedang mengenali perubahan tertentu dalam pekerjaan informasi yang secara khusus mempunyai konsekuensi penting bagi masyarakat secara keseluruhan. Bagi Gouldner, kelompok baru dapat memberi kepada kita dengan membahas dan mendebat arah dari perubahan sosial, sementara bagi Perkin, para profesional dapat menciptakan ide-ide baru untuk mengatur urusan-urusan sosial.

            Apabila orang sedang mencari indeks masyarakat informasi pada para pemikir ini, orang akan diarahkan pada kualitas kontribusi kelompok tertentu. Baik apakah orang setuju atau tidak dengan interpretasi mereka, tantangan untuk mendefinisikan masyarakat informasi berdasarkan atas jumlah pekerja informasi haruslah jelas. Bagi para pemikir seperti Perkin dan Gouldner, perubahan kuantitatif bukanlah isu utamanya. Memang, sebagai proporsi populasi, kelompok yang ambil masih tetap kurang.

 

4. Spasial

            Konsepsi masyarakat informasi ini, meski digambarkan pada sosiologi dan ekonomi, memiliki inti pada langkah geografi. Disini, penekanan besarnya adalah pada jaringan informasi yang menghubungkan banyak lokasi sehingga mempunyai dampak dramatis pada pengaturan ruang dan waktu. Hal ini menjai indeks masyarakat informasi terpopular di tahun-tahun terakhir, sebagian besar karena trilogi yang dtulis oleh Manuel Castells dengan judul The Information Age (1996-1998) dimana ia menerangkan “masyarakat jejaring”.

            Goddard mengenali beberapa elemen yang saling terkait dalam masa transisi menuju masyarakat informasi, yaitu:

-          Informasi tiba menduduki panggung tengah sebagai “sumber daya strategi utama” dimana organisasi ekonomi dunia tergantung padanya.

Dunia modern memerlukan koordinasi manufaktur bersifat global, rencana yang melintasi dan antar negara, serta pemasaran diseluruh benua. Apa yang disebut sebagai globalisasi perusahaan – mulai dari produksi sampai distribusi menuju pemasaran – artinya ialah urusan ekonoi (dan yang lainnya) semakin dilakukan dalam skala dunia. Ini seperti yang diamati oleh sejarawan Eric Hobsbawm, utamanya sejak tahun 1960an, ekonomi dunia mulai terwujud “yang sebenarnya tidak memiliki basis batas wilayah tertentu” dan sampai awal tahun 1970an, ekonomi transnasional itu menjadi kekuatan global yang efektif. Logika dari ini bagi peserta, yakni korporasi transnasional yang merupakan “kekuatan dominan dalam ekonomi dunia” adalah mengembangkan strategi dan mekanisme global untuk memaksimalkan keuntungan persaingannya. Informasi atau apa yang disebut oleh Peter Drucker sebagai “aktifitas sirkular” yang “menghubungkan banyak sistem produksi bersama-sama” adalah sumbu bagi diversitas aktifitas tersebut, sehingga semakin mempertajam pentingnya dunia kontemporer. Selanjutnya ada yang disebut dengan “manajemen informasi” sehingga akibatnya kita menyaksikan cepatnya penyebaran pekerjaan informasi.

-          Teknologi komputer dan komunikasi menyediakan infrastruktur yang memperkuat informasi untuk diproses dan disebarluaskan. Teknologi ini membuat informasi dapat ditangani pada skala yang tak terduga-duga secara historis, demi mempermudah keadaan instan dan perdagangan real-time, serta untuk memantau urusan-urusan ekonomi, sosial, dan politik pada tahap global.

-          Terdapat pengecualian pertumbuhan cepat dari “sektor informasi yang dapat diperdagangkan” dari ekonomi, dimana Goddard mengartikannya sebagai ringkasan ledakan pertumbuhan jasa seperti media baru (siaran melalui satelit, kabel, video) dan database on-line yang menyediakan informasi apa saja mulai dari deal pasar saham, harga komoditas, daftar paten, fluktuasi mata uang, sampai abstrak jurnal ilmiah dan teknologi.

Pelengkap dari perkembangan ini ialah pengaturan kembali sistem keuangan dunia secara radikal yang meruntuhkan batasan-batasan tradisional yang sebelumnya memisahkan perbankan, pialang, jasa keuangan, agen kredit, dan semacamnya. Didalam dunia dengan keuangan yang liar ini – yang mana ada sebagian orang mengerti dan masih mampu mengendalikan – yang memutar, dalam bentuk elektronik, sejumlah besar modal (satu estimasi menyebutkan ada 2 milyar Eurodolar dalam sistem). Sangatlah sulit membuat konseptualisasinya, namun sulit pula untuk meremehkan tumbuhnya pasar keuangan global yang terintegrasi. Dengan sistem TI canggih yang ada sekarang, ditambah deregulasi pasar saham dan penghapusan kontrol nilai tukar, kita sekarang memiliki fasilitas untuk melanjutkan dan mengalirkan informasi moneter real-time, tanpa mengenal batas waktu didalam memperdagangkan saham, andil dan mata uang. Skala dan kecepatan arus informasi ini sangatlah luar biasa. Hutton, misalnya, mengamati bahwa turnover nilai tukar asing telah melebihi ukuran perekonomian nasional dan membuat arus perdagangan (sebuah metode tradisional didalam mengukur aktifitas ekonomi nasional dalam hal impor dan ekspor) terlihat kecil bila dibandingkan. Oleh karenanya “total tingkat perdagangan barang dunia ditahun 1993 adalah dua pertiga dari Gross Domestic Production AS; sehingga dibutuhkan turnover dalam pasar valuta asing kurang dari semalam untuk mencapai jumlah total yang sama.

            Pengolahan informasi yang segera dan efektif serta pertukaran ekonomi telah menjadi global dan dengan ini muncullah pengurangan pada hambatan ruang. Perusahaan sekarang bisa mengembangkan strategi global untuk produksi, penyimpanan, dan penyaluran barang-jasa; kepentingan keuangan berjalan terus-menerus, merespon dengan cepat, dan melintasi seluruh dunia. Keterbatasan yang muncul karena lokasi geografi menjadi mudah diatasi – sekaligus keterbatasan pada waktu, sehingga informasi dapat dikelola dan dimanipulasi dalam periode kontemporer.

            Perkembangan semacam itu menekankan pada sentralitas jaringan informasi yang mentautkan lokasi kealam dan diantara kota, wilayah, bangsa, daratan, dan seluruh dunia. Sebagaimana jaringan listrik yang berada diseluruh negeri, masuk ke rumah tangga-rumah tangga, demikian pula dengan “masyarakat berkabel” yang berjalan ditingkat nasional, internasional, dan global didalam menyediakan “informasi utama” bagi setiap rumah, toko atau kantor. Lebih penting lagi, kita semua telah terkoneksi dengan jaringan – yang dengan sendirinya meluaskan jangkauan dan kapasitas. Kita sendiri pun melintasinya secara pribadi dengan banyak tingkatan: pada terminal-terminal titik penjualan elektronik di toko dan restoran, saat mengolah data lintas benua, dalam surat elektronik ke teman, atau saat bertukar informasi di Internet. Kita mungkin tidak secara personal mengalaminya, tetapi fungsi “jaringan informasi” masih lebih terasa ditingkat bank-bank internasional, agen antarpemerintah, dan hubungan korporat.

            Di banyak tulisan, penekanannya adalah pada basis teknologi dari jaringan informasi. Mungkin ini dapat diprediksi kemudian dengan masyarakat jaringan yang muncul menarik perhatian pada kemajuan dan hambatan perkembangan infrastruktur ISDN. Akan tetapi, betapapun pentingnya teknologi dan tersedianya sentralitas telekomunikasi bagi perkembangan TI, banyak pemikir menaruh perhatian pada kemunculan “pasar jaringan” yang penekanannya adalah pada cara dimana jaringan mendukung pentingnya arus informasi.

            Disini, idenya adalah peredaran informasi sepanjang “jalan tol” elektronik. Menariknya, tak seorangpun mampu menghitung seberapa banyak dan pada tingkatan apakah informasi harus mengalir dirute-rute yang membentuk masyarakat informasi. Faktanya, tak seorang pun bisa menghasilkan gambaran nyata bagi kita sehingga kita bisa memahami lalu lintas informasi. Kita memiliki data tentang kepadatan telepon dalam kaitannya dengan populasi, gambaran mengenai meluasnya jasa faks, statistik untuk penjualan sistem komputer, pertukaran telekomunikasi otomatis, dan seterusnya, namun kekurangan gambaran yang jelas mengenai ukuran, kapasitas, dan penggunaan jaringan.

            Namun demikian, semua pengamat sadar akan peningkatan masal dalam arus data transborder, dalam fasilitas telekomunikasi, dalam komunikasi antar komputer disetiap tingkatan mulai dari rumah tangga sampai organisasi lintas nasional, dalam pertukaran antara pasar saham dan segmen korporat, dalam akses ke database internasional, dalam pesan-pesan teleks, dan dalam penggunaan Internet. Secara sama, ada kesadaran akan peningkatan pada penyaluran global informasi mediasi masal: contoh nyatanya adalah televisi satelit, meski orang juga bisa memasukkan jasa pengumpulan dan penyampaian beritas didalamnya.

            Mengapa banyak volume dan kecepatan arus informasi harus membuat kita berpikir membuat jenis masyarakat baru dalam kaitannya dengan pertimbangan geografi. Segala sesuatunya terjadai ditempat dan waktu tertentu, namun karakteristik ruang dan waktu telah diubah dengan kemajuan jaringan masyarakat. Ketika suatu perdagangan lemah dan bergerak melamban melintasi jarak, saat ini perdagangan dapat dilakukan secara instan dengan teknologi komunikasi terkomputerisasi; ketika satu aktifitas korporat perlu dikoordinasi dengan surat yang bergerak-lamban karena memerlukan beberapa hari dan bahkan minggu melintasi ruang yang terbagi-bagi, sekarang hal itu hanya membutuhkan real-time karena fasilitas telekomunikasi dan video-konferensi canggih.

            Dunia yang dibangun berdasarkan jaringan saat ini mempertanyakan konsepsi lama tentang ruang dan kekuasaan. Ketika ekonomi pasar pada mulanya tumbuh berdasarkan aturan kehidupan kota yang temporal dan spasial, saat ini hal itu dibangun secara logikal atau berdasarkan peraturan “virtual” dari komunikasi elektronik, sebuah simpul dan penghubung geografi baru, yang mengelola dan mengendalikan pusat-pusat yang ada. Infrastruktur fisik abad kesembilan belas berupa jalan kereta api, terusan, dan jalan saat ini tengah dibayangi dengan tautan jaringan komputer, kabel, dan radio yang mengatur segalanya, bagaimana segalanya itu dibayar, dan siapa yang mengakses apa.

            Ringkasnya, hambatan ruang secara dramatis terbatas, meski tidak berkurang. Dan secara serempak, waktu dengan sendirinya “terpusat” sebagai kontak melalui komunikasi komputer dan telekomunikasi. “pemadatan waktu/ruang” seperti diistilahkan oleh Giddens, memberi kepada korporasi, pemerintah, dan bahkan individu pilihan yang tak bisa dijangkau.

            Tak seorang pun bisa menolak bahwa jaringan informasi adalah ciri utama dari masyarakat kontemporer: Satelit dapat melakukan komunikasi cepat diseluruh dunia; database dapat diakses dari Oxford sampai Los Angeles, Tokyo, dan Paris; mesin faks dan sistem komputer antarbenua adalah bagian rutin dari bisnis modern.

            Namun, kita masih bertanya: Mengapa kehadiran jaringan membuat para analis mengelompokkan masyarakat sebagai ekonomi informasi? Dan, ketika kita menanyakan hal ini, kita masuk kedalam persoalan ketidaktepatan definisi sekali lagi. Contohnya, kapankah suatu jaringan itu adalah jaringan? Dua orang yang berbicara satu sama lain melalui telepon atau sistem komputer mengirimkan banyak data melalui paket pengubah pertukaran? Kapankah blok kantor “dihubungkan kabel” atau kapankah terminal di rumah dapat berkomunikasi dengan bank dan toko lokal? Pertanyaan sebenarnya mengenai apa saja yang membentuk jaringan adalah sebuah pertanyaan serius dan memunculkan persoalan tidak hanya bagaimana membedakan antar tingkat jaringan yang berbeda-beda, tetapi juga bagaimana kita menentukan poin dimana kita telah masuk kedalam masyarakat jaringan/informasi.

            Terakhir, orang dapat berpendapat bahwa jaringan informasi telah ada sejak lama. Dimulai dari hari-hari awal jasa pos, sampai telegram dan fasilitas telepon, dimana banyak kehidupan ekonomi, sosial, dan politik tak akan berjalan baik tanpa aanya jaringan informasi tersebut. Dengan adanya ketergantungan dan peningkatan dalam jangka panjang ini, yang bila dipercepat dan dikembangkan, mengapa bahwa ditahun 1980an para komentator mulai membicarakan masyarakat informasi?

 

5. Budaya

            Konsepsi akhir dari masyarakat informasi ialah pengakuannya yang paling mudah. Masing-masing dari kita sadar, mulai dari pola kehidupan kita sehari-hari, dimana ada peningkatan luar biasa pada informasi dalam lingkaran sosial.

            Televisi telah luas digunakan selama lebih dari 40 tahun di Inggris, tapi sekarang pemrogramannya sudah nyaris dua puluh empat jam, orang pun mampu menonton mulai dari tengah malam sampai dini hari. Televisi meluas dari channel tunggal dan berhenti bersiaran sampai sekarang ada lima saluran penyiaran, sementara digitalisasi televisi semakin maju, sehingga bisa menampung lebih banyak channel alam dekade berikutnya. Keadaan ini diperkuat dengan disatukannya teknologi video, channel kabel dan satelit, dan bahkan jasa informasi terkomputerisasi semacam teletext. Yang terbaru, peluncuran game komputer pada Personal Computer dan produk-produk virtual reality yang sudah melanda rumah tangga. Sekarang sudah ada banyak output radio daripada satu dekade sebelumnya, baik ditingkat lokal, nasional, dan internasional. Dan radio sudah disingkirkan dari ruang depan rumah, namun tersebar diseluruh ruangan rumah, dimobil, dikantor, dan dengan walkman, dimana saja. Film telah lama menjadi bagian utama dari lingkungan informasi orang, tapi kenyataannya menonton dibioskop juga mengalami penurunan signifikan. Namun film saat ini lebih banyak jumlahnya daripada sebelumnya: karena film masih saja diputar di bioskop, disiarkan ditelevisi, atau bisa ditonton di video yang kita sewa, maupun membelinya dirak-rak toko. Berjalan disepanjang jalan, nyaris tidaklah mungkin kita tidak melihat iklannya, dibillboard, maupun diposter-poster yang ditempelkan. Berkunjunglah ke stasiun kereta api dan bis, maka anda bisa melihat banyak buku dan majalah, yang mana pokok bahasannya mulai dari cerita klasik, fiksi sampai terapi-mandiri. Sebagai tambahan, auditape, compact disc dan radio semuanya mudah tersedia; musik, puisi, drama humor dan pendidikan juga tersedia. Suratkabar-suratkabar tersebar dimana-mana dan judul-judul baru pun menghampiri pintu rumah secara gratis. Surat-surat tak berguna (Junk Mail) nyaris setiap hari dikirim.

            Gambaran keseluruhan itu menguji fakta bahwa kita sudah terbiasa dengan media, namun ciri informasional dari dunia kita adalah jauh lebih penetratif daripada daftar pendek televisi, radio, dan sistem media lainnya. Daftar tersebut mengisaratkan bahwa media baru mengelilingi kita, memberi kita pesan-pesan yang kita mau atau tidak mau harus merespon. Tetapi, sebenarnya lingkungan informasional adalah jauh lebih akrab, lebih menekan kita daripada itu semua. Orang bisa mempertimbangkan, misalnya, dimensi informasional dari pakaian yang kita kenakan, gaya rambut dan wajah kita, atau cara kita menjaga citra (mulai dari gerak-gerik tubuh saat berpidato, sampai orang secara intens sadar akan pesan yang akan mereka sampaikan dan bagaimana mereka merasakan dirinya sendiri dengan pakaian tertentu, dengan gaya rambut tertentu, dll.). Sebagian momen yang mencerminkan kompleksnya fashion, cara-cara dimana kita mendisain diri dalam presentasi sehari-hari, membuat orang semakin sadar bahwa hubungan sosial saat ini banyak melibatkan konten informasional daripada sebelumnya.

            Pastinya, memang telah lama ada pemujaan terhadap tubuh, pakaian, dan riasan yang menjadi cara utama untuk menandakan status, kekuasaan, dan keterkaitan. Namun, tampak jelas bahwa jaman sekarang sangat bertumpu padaa impor pakaian dan tubuh secara simbolik. Saat seseorang menyadari kekurangan makna yang menandai ejekan selama berabad-abad, serta keseragaman pakaian yang dikenakan oleh kelas pekerja industrial selama tahun 1950an, maka ledakan makna dalam hal pakaian terjadi besar-besaran. Tersedianya pakaian yang murah dan mengikuti gaya, kemungkinan mendapatkannya, dan akses ke kelompok dengan gaya hidup dan budaya yang sama atau pun berbeda (dibagi berdasarkan usia, gender, ras, etnis, pengaruh, wilayah, dll.) kesemuanya membuat orang menghargai konten informasional bahkan bagi tubuh kita sendiri.

            Rumah juga menjadi lahan informasional dalam cara yang sama. Perabotan, tata letak, dan disain dekoratif semuanya mengekspresikan ide dan keidealan: gaya G-plan, Laura Ashley settee, wallpaper William Morris dan percampuran sebagian maupun semuanya daripada itu dengan didasarkan pada pilihan dan anggaran. Tentu saja, semenjak hari-hari Revolusi Industrial, rumah telah menjadi penanda cara kehidupan – orang berpikir, misalnya, gaya kelas pekerja “yang dihargai” dari periode akhir Victorian atau disain berbeda dari kelas menengah profesional saat-saat perang. Namun, itu semua adalah mengandung banyak hal dalam dekade kini, dan akses kepadanya sangatlah luas.

            Masuknya informasi kedalam rumah, ruang tidur dan tubuh dilengkapi pula dengan tumbuhnya lembaga-lembaga yang memang ditujukan untuk

Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :